Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan

Penertiban PKL Yang Tak Kunjung Usai

“Hei, kau berjualan di sini ?” ujar salah satu oknum ketertiban umum.

“Eh, iya Pak,” ujar seorang pedagang kaki lima (PKL) di sebuah tempat keramaian di Kota Bandung. Sambil menjawab pertanyaan oknum tersebut, ia pun mengeluarkan sebungkus rokok. Oknum tersebut pun pergi mencari PKL di tempat yang tidak jauh dari sana.Mencari tambahan rokok atau pun uang.

Cerita singkat di atas adalah satu diantara banyak cerita yang dikemukakan oleh Heri (bukan nama sebenarnya) tentang permasalahan rumit dan peliknya penertiban pedagang kaki lima yang berjualan di tratoar Kota Bandung.

Heri adalah pedagang kaki lima yang memarkirkan gerobaknya di kawasan Jl. Ahmad Yani Kota Bandung untuk berjualan empek-empek. Ia telah lama berjualan sebagai pedagang kaki lima. Ia pun sering berpindah-pindah tempat di beberapa kawasan di Bandung untuk berjualan menghidupi keluarganya.

Kota Bandung merupakan salah satu kota besar yang ada di Indonesia. Dengan berbagai macam daya tariknya, baik di bidang pariwisata, kuliner dan pusat perbelanjaan membuat Bandung menjadi tempat yang mendapat banyak kunjungan. Pengunjung tidak hanya berasal dari daerah sekitar, seperti Jakarta. Akan tetapi, pengunjung juga banyak berasal dari luar negeri. Daya tarik Bandung tersebut juga memberikan dampak negative bagi ketertiban dan keindahan kota. Keindahan Kota Bandung mulai terusik ketika semakin menjamurnya jumlah PKL yang memadati tratoar, bahu jalan, taman-taman hijau dan ruang terbuka.

Ada beberapa daerah yang menjadi pusat keramaian dan banyak pedagang kaki lima. Kawasan ini dikenal dengan kawasan tujuh titik dan harusnya bebas PKL. Yaitu : Kawasan Pasar Baru, Jl Dalem Kaum, Jl Kepatihan, Jl Asia Afrika, Jl Otto Iskandardinata, Jl Dewi Sartika serta di kawasan Alun-alun Kota Bandung.

Pada tahun 2005, Pemerintah Kota Bandung mengeluarkan Peraturan Daerah mengenai K3. Peraturan tersebut tercantum pada pasal 49 ayat (1) Perda nomor 11 tahun 2005 yang berbunyi: “Bahwa setiap orang atau badan hukum yang melakukan perbuatan berupa : “berusaha atau berdagang di tratoar; badan jalan/jalan; taman;jalur hijau dan tempat-tempat lain yang bukan peruntukannya tanpa izin dari waliKota dikenakan biaya paksa penegakan hokum sebesar Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah) dan/atau sanksi administrative berupa penahan untuk sementara waktu KTP atau kartu identitas penduduk lainnya.”

Sejak 2005, Perda tersebut belum memberikan dampak bagus pada ketertiban umum akan keberadaan PKL di tratoar. Hal itu terbukti hingga sekarang ada kurang lebih 40.000 jumlah PKL di Kota Bandung. Tratoar merupakan tempat pejalan kaki dan hak publik untuk memanfaatkannya. Akan tetapi, ketika PKL mulai menjamur, hak publik tidak lagi didapatkan. Hak publik yang menggunakan tratoar diambil oleh pedagang kaki lima.
Satuan Kepolisian Pamong Praja (Satpol PP) merupakan badan ketertiban umum yang ditunjukkan oleh pemerintah kota untuk menegakkan produk undang-undang daerah. Tentu dalam kasus bertambahnya PKL ini, Satpol PP merupakan pihak yang berwenang besar untuk menanggapi mengapa jumlah PKL bisa bertambah.

Andriani, Pelaksana Bagian Penyidik Satpol PP Kota Bandung mengungkapkan bahwa penertiban PKL merupakan permasalahan yang kompleks dan rumit. Di dalam penegakkannya, pihak Satpol PP tentunya menggunakan prosedur-prosedur yang tidak merugikan pihak-pihak lain.

“Di dalam operasional, kami lebih banyak menggunakan cara persuasif. Untuk daerah tujuh titik memang tidak memakai peringatan. Jika ada, langsung diambil dagangannya dan diserahan ke penyidik untuk di sidang. Di luar wilayah tujuh titik, kita pakai prosedur peringatan. Jika tidak bisa baru ditindak,”ujarnya.

Di dalam penertiban PKL ini, terdapat istilah mati satu tumbuh seribu. Satu PKL yang ditertibkan, timbul lagi jumlah PKL yang lebih banyak. Pada awalnya cara pengambilan gerobak dengan paksa oleh Satpol PP bertujuan sebagai shock terapi bagi PKL. Namun itu tidak berjalan efektif.

“Memang kurang efektif, tetapi jika kami lakukan dengan kekuatan penuh juga tidak efektif. Akan ada perlawanan dari PKL,” ujar Andriani.

Berdasarkan data tersebut, pada tahun 2010, Satpol PP berhasil menertibkan 322 PKL di kawasan tujuh titik.Jumlah di tahun 2010 menurun dibandingkan tahun 2009 yang berjumlah 520 PKL.Untuk bisa menertibkan PKL tersebut, banyak sekali tantangan yang harus dihadapai oleh pihak Satpol PP. Mulai dari penentangan dari PKL hingga pernyataan sinis.

“Sampai Jumat mah, maling aja.Kita mengerjakan pekerjaan halal malah ditertibkan,” ujar Andriani menirukan ucapan pedagang yang mengambil berkas untuk pemeriksaan.

 Pernyataan tersebut di terimanya dengan muka pedagang yang sinis. Memang sidang untuk penertiban PKL selalu dilakukan di hari Jumat di Pengadilan Negeri Bandung.

Publik yang Dilema

Tratoar merupakan tempat bagi pejalan kaki. Tratoar di buat agar pejalan kaki bisa berjalan dengan tenang dan selamat hingga tujuan. Namun, apa jadinya jika tratoar merupakan hak publik diambil oleh pedagang kaki lima untuk berjualan. Apakah ini merupakan perampasan hak publik? Akan tetapi, ada juga publik yang merasa diuntungkan dengan keberadaan PKL. Hal ini menjadi sebuah dilema.

“Tratoar dibuat kan untuk menjaga keselamatan pejalan kaki. Akan tetapi, karena tratoar digunakan oleh pedagang, saya sering berjalan kaki di jalanan. Itu membahayakan diri saya. Seharusnya, pedagang tersebut jangan dibiarkan berjualan di sana. Pemerintah kota harus menyediakan tempat bagi mereka” ujar Lani, masyarakat Kota Bandung menanggapi penyalahgunaan tratoar oleh PKL.

Ahli Pemerintahan, Ahmad Fauzan mengatakan bahwa penegakan Perda yang berkaitan dengan ketertiban umum sudah ada di tangan Satpol PP.

“Jika PKL bandel, ketertiban umum yang bertanggung jawab. Selanjutnya, di dalam kinerja Satpol PP apakah betul sesuai dengan peraturan perundangan atau menindak langsung atau banyak toleransi. Sehingga akhirnya Perda ini tidak terlaksana dengan baik,” ujar Ahmad yang juga dosen Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad.

Akan tetapi, masih ada juga publik yang setuju dengan keberadaan pedagang kaki lima. Alasannya adalah memudahkan pembeli untuk berbelanja. Pada saat ulang tahun ke 200 Kota Bandung, media massa Pikiran Rakyat mengadakan survei terhadap sekitar 1500 pembacanya akan persentase prioritas penanganan masalah Kota Bandung. Ternyata hanya 6 % dari responden yang menginginkan penertiban tratoar. 

“Dalam survei orang akan berfikir untung dan rugi.Dari segi konsumen mereka pasti mendukung. Kaki lima seperti apa, saya kira kaki lima yang tidak permanen. Saya tidak melihat signifikansi apakah ini menguntungkan dari segi konsumen atau tidak,” ujar Ahmad ketika menanggapi survei tersebut.

Usir PKL, APBD Bandung Pun Melayang

Suatu keberhasilan yang besar bisa dilihat oleh masyarakat Bandung. Itu terlihat ketika pada 6 Desember 2010, Wali Kota Bandung Dada Rosada melepas sekitar 159 pedagang dengan 304 gerobak dagangan Pedagang Kaki Lima yang biasa berjualan di seputaran Alun-Alun Kota Bandung mulai dipulangkan ke kampung halamannya. Mereka yang selama 7 tahun berjualan di tempat itu diminta untuk tak lagi berjualan dengan kompensasi pembelian gerobak dan pemberian uang hingga Rp 2 juta per orang.(tempointeraktif.com, Senin, 6 Des 2010)

Pemerintah kota merogoh kocek anggaran APBD daerah Bandung sebesar Rp 2,25 miliar untuk penertiban dan kompensasi para ratusan PKL di kawasan tujuh titik bebas PKL. Setiap PKL diberikan dana hibah sebesar 1,5 -2 juta rupiah per gerobak. Di samping itu, mereka juga diminta untuk berjanji tidak akan kembali ke Alun-Alun untuk berjualan. Proses pemulangan khusus wilayah Auln-Alun ini menghabiskan dana sebesar 500 juta rupiah.
Andriani, pelaksana bagian penyidik Satpol PP mengakui bahwa pemberian dana hibah itu benar. Dan pemberian itu diberikan langsung oleh Pemkot ke perwakilan PKL di daerah Alun-Alun.

“Dana hibah diberikan langsung pada perwakilan PKL itu sendiri. Satpol PP tidak pegang uang itu.Yang membagikannya juga dari perwakilan mereka,” ujarnya.

Jumlah pedagang kaki lima yang dipulangkan semuanya berasal dari luar Kota Bandung. Sebanyak 90% berasal dari Garut dan 10 % berasal dari daerah sekitar Bandung, seperti Ciparay, Soreang ,dan Majalaya.

“Harusnya pemerintah kita secara komprehensif harus mengkaji, bukan hanya mengganti dan mengusir,” ungkap Ahli Pemerintahan Unpad, Ahmad.

Ahmad mengatakan hal utama yang dilihat adalah ada apa dengan push factor (faktor pendorong), sehingga banyak PKL. Apalagi Kota Bandung dikelilingi oleh Kota-Kota satelit. Alasan klasikal, mereka (PKL) kekurangan uang di daerah asal. Melihat di Kota, betapa mudahnya mencari uang, sehingga mereka mudah tergiur

“Ada apa permasalahan di wilayah mereka masing- masing dan mereka dengan mudah masuk Kota.Padahal itu tidak boleh.PKL, pengemis, topeng monyet itu bukan orang Bandung. Ini yang harus diatasi bersama-sama. Jika diganti, mereka akan tetap berkutat di Kota Bandung,”ujarnya.

Butuh Keseriusan Menghadapi Masalah PKL

Penggantian gerobak atau dana hibah yang diberikan oleh Pemkot bukanlah langkah tepat untuk mengurangi jumlah PKL di Kota Bandung. APBD merupakan uang masyarakat Kota Bandung, dan diberikan pada PKL yang sebagian besar bukan orang Bandung.

Salah seorang pedagang kaki lima pun mengakui bahwa apa yang mereka lakukan (red:berjualan di tratoar) adalah salah. Namun, mereka harus berusaha mencari sesuap nasi yang halal untuk menyambung hidup diri sendiri dan keluarga.

“Butuh keseriusan untuk membahas masalah PKL ini. Kita harus melihat dari dua sisi. Masyarakat ingin jalan bisa rapi, pedagang untuk hidup dan pemerintah ingin kota bisa bersih,” ujar seorang pedagang yang tidak mau disebut namanya.

Ahli pemerintahan Unpad, Ahmad juga mengatakan bahwa melihat permasalahan kaki lima ini terkait dengan urban. Adanya teori push anda full factor. Artinya adanya masalah di daerah asal PKL dan daya tarik kota.

“Bikin kota menjadi tidak menarik. Karena menarik itulah yang membuat kaum urban banyak masuk ke kota. Selain itu, Satpol PP juga harus rajin merazia dan mengawasi. Jika sering dibersihkan, maka orang akan berfikir masuk ke Kota Bandung. Jika masih ada toleransi, ya hasilnya akan tetap seperti sekarang juga,” ujar Ahmad.

jika PKL bisa ditertibkan, tratoar akan bersih dan hak publik untuk menggunakan tratoar pun kembali. Dampak positif pun akan timbul, diantaranya kemacetan yang membuat rugi akan bisa teratasi. Kota akan menjadi lebih indah sehingga mengundang banyak pengunjung, akhirnya akan menambah pendapatan daerah Kota Bandung. Semoga harapan ini bisa terwujud.M. Diaz Bonny S

Diabetes Anak, Sering Dianggap Remeh


Tak bisa dipungkiri, penyakit diabetes memang tidak mengenal usia. Tidak hanya berlaku pada manusia usia dewasa, usia anak-anak pun sangat rentan terkena diabetes. Begitu pun bayi yang baru lahir.

Pada Selasa,20/11, Endokrinolog Anak,dr.Riyadi Fadil mengemukakan pada  bahwa telah terjadi peningkatan 1-2 kasus diabetes anak di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung.

Kasus diabetes yang banyak terjadi pada anak berasal dari golongan diabetes tipe 1. “Diabetes tipe 1 ini terjadi ketika pankreas mengalami kerusakan, sehingga tidak bisa menghasilkan insulin,” ujar dr. Riyadi Fadil ketika ditemui di ruang kerjanya, di Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSHS Bandung.

Riyadi yang juga mengajar di FK Unpad mengungkapkan bahwa diabetes anak tipe 1 seringkali tidak terdeteksi. “Biasanya datang dalam keadaan koma,” tambahnya. Jika diabetes tipe 1, maka suntikan insulin akan terus diberikan pada anak penderita diabetes sepanjang hidupnya.

Selain tipe 1, diabetes tipe 2 pun banyak terjadi pada anak-anak. Diabetes tipe 2 ini disebabkan oleh pola makan yang salah dan berlebihan. “Kelebihan makanan akan menimbulkan resistensi insulin, di mana pankreas mengalami kerusakan hingga 80% dan tak mampu lagi mengontrol kadar gula,” ujarnya Selain itu faktor turunan orang tua memiliki peran. 

Dr. Julistio Djais, SpA (K), Mkes dari Sub divisi gizi metabolik Ilmu Kesehatan Anakan (IKA) FK Unpad/RSHS mengajak masyarakat diharapkan mengenali jenis gula tambahan berlebih dan mewaspadai indeks dan beban glikemik yang tinggi pada kandungan nutrisi anak serta dampaknya. 

Hipotiroid: Pembunuh Otak Berdarah Dingin


Penyakit hipotiroid atau hipertiroid pada ibu hamil di Indonesia masih belum menjadi kesadaran masyarakat luas. Padahal penyakit ini tak bisa dianggap enteng, terlebih pada anak yang baru lahir dari ibu penderita hipotiroid. Anak yang terlahir hipotiroid akan mengalami cacat mental, berfikir lambat dan akibat terparah anak terlahir idiot.

Kekurangan tiroid sejak dalam kandungan disebut hipotiroid kongenital. Hormon tiroid ini berperan untuk pertumbuhan otak, pertumbuhan fisik dan perkembangan metabolisme tubuh.

“Pada otak, hormon tiroid berguna untuk membentuk sel-sel nouron otak, membangun jaringan dan membentuk diferensiasi fungsi otak, seperti berbicara, mengingat, sensitifitas dan sebagainya,” ujar Spesialis Anak Konsultan Endokrinologi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) dr.Diet Rustama, SpA(K).

Pada kehidupan manusia, pertumbuhan fisik memiliki dua periode, yaitu periode bayi dan remaja. Sedangkan masa pertumbuhan otak hanya terjadi sekali, yaitu pada umur 1-3 tahun. “Itu yang memperihatinkan, karena masa kritis pertumbuhan otak pada rentang itu saja. Lewat dari rentang itu, otak tidak berkembang lagi. Jika terjadi gangguan pada otak, akan fatal akibatnya bagi anak,” tambah dr.Diet yang juga Ketua Sub Pokja-Pokjanas Screening Bayi Baru Lahir Kemenkes RI di RSIA Hermina Pasteur Jl. DR.Djundjunan No.107, Bandung pada Jumat (2/11).

Resep "Pedas" Suksesnya Sang Presiden Maicih

Sosok pemuda bernama Reza Nurhilman terlihat sederhana dan fasih memberikan cerita perjalanan kehidupannya pada M. Diaz Bonny S. dari Gatra. Menjelang sore, Rabu 1 Agustus 2012, di kediamannya Jl. Cipaku Indah 8 No 3A Setiabudi, Bandung Jawa Barat, pria yang biasa dipanggil Axl ini mencurahkan kisah sukses dirinya dan keripik setan Maicih yang kini berada dalam payung PT Maicih Inti Sinergi.Dua puluh tahun silam tepatnya 29 September 1987, di Bandung lahirlah seorang bayi lelaki yang diberi nama Reza Nurhilman. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara dengan kedua kakak laki-lakinya (Arie Kurniadi dan Dimas Ginanjar Merdeka (Bob)).

Sejak umur satu tahun, Reza harus dihadapi pada perceraian orang tuanya. Ibunya Amanda Ike Herrdany terpaksa harus berjuang sendiri menghidupi ketiga anaknya. Tak ayal, Reza kecil pun diasuh oleh orang tua angkatnya, Prof. Dr. Yoyo Mulyana hingga umur tiga belas tahun di Kota Cimahi, daerah di sebelah barat Kota Bandung.

Masa kecil dilalui Reza seperti anak biasanya. Namun, prestasinya sudah terlihat sedari kecil. Ia menjuarai lomba MTQ dan Muadzin pada umur 11 tahun. Pendidikannya berlanjut ke SMP Negeri 2 Bandung. Ketika kelas 2 SMP ia sudah kembali tinggal bersama ibu kandungnya. Beranjak remaja, Reza yang penyuka musik alternatif dan juga guitarist/ vokalis di grup band Guns 'N Roses ini pun membentuk band bernama Member Throat walaupun memang tidak bertahan lama dengan berbagai alasan.  Nama panggilan Axl itu pun didapat karena kecintaannya pada musik GnR itu.

Bebas Bersyarat, Ariel Cs Gelar Syukuran

Pada Senin, 23 Juli 2012, sekitar pukul 16.00 WIB halaman Hotel Grand Serella, Jalan R.E. Martadinata (Riau) No.56, Bandung, Jawa Barat terlihat ramai. Di halaman hotel telah berkumpul puluhan wartawan dari berbagai media massa. Di samping itu, terlihat pula puluhan remaja pria dan wanita yang sesekali meneriakkan kata “Ariel”.

Seperti yang dilaporkan M.Diaz Bonny S. dari Gatra, keramaian itu terjadi sebagai ungkapan rasa syukur atas bebas bersyaratnya Nazriel Irham atau dikenal Ariel Peterpan pada Senin, 23 Juli 2012, sekitar pukul 08.00 WIB. Suasana heboh bercampur teriakan pun terdengar juga di ruang Ballroom, lantai tiga Hotel Serella. Ruangan berkapasitas 400 orang, penuh sesak oleh para fans eks band Peterpan, wartawan dan infotainment.

Joki SNMPTN :Selalu Ada Cara Baru

Bagi mahasiswa yang sedang menjalankan studi di perguruan tinggi pastilah tidak asing mendengar kata joki SNMPTN, dulunya joki (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) SPMB. Mungkin ada juga mahasiswa yang ketika ikut ujian seleksi perguruan tinggi mendapatkan tawaran dari joki.

Joki SNMPTN, sebenarnya sudah ada sejak 15 tahun lalu. Joki SNMPTN merupakan semacam layanan terpadu yang disediakan oleh sekelompok orang, biasanya mahasiswa di perguruan tinggi terkenal. Mereka bertugas untuk membantu peserta ujian agar lulus dan diterima di sebuah perguruan tinggi tujuan.

“Untuk para joki, biasanya di bagi dalam regional-regional. Nantinya di setiap regional itulah yang akan menjaring mahasiswa-mahasiswa untuk ikut menjadi joki. Misalkan regional Bandung pusatnya di perguruan tinggi tertentu,” ujar narasumber Djatinangor yang tidak mau disebutkan namanya.

Resiko besar pun harus dihadapi oleh para joki ini. Mulai dari risiko ketahuan di saat ujian, hingga risiko dikeluarkan dari perguruan tinggi di mana ia menuntut ilmu. Namun, semua risiko itu terasa tidak memiliki arti jika berhadapat dengan gepokan uang. Angka Rp 25 juta rupiah, merupakan angka besar bagi ukuran kantong mahasiswa. Dengan tawaran seperti itulah, ada beberapa mahasiswa siap untuk “bertarung” menjadi joki SNMPTN.

Weny Widyowati, Humas SNMPTN Panitia Lokal Bandung mengatakan, setiap tahun selalu ada kejadian-kejadian yang mengarah pada kecurangan akademik ini. Sebagai panitia pun, ia tidak menyembunyikan fenomena-fenomena ini.

“Kami sudah memiliki pengalaman sejak 2007, memang selalu ada cara untuk menangkap orang-orang berlaku curang,” ujar Weny optimis untuk menangkap pelaku curang ujian SNMPTN.
Selalu ada cara

Di setiap tahun ujian masuk perguruan tinggi, selalu ada modus operasi yang digunakan oleh para joki untuk melancarkan aksinya. Mulai dari aksi penggunaan handphone (SMS), menggantikan peserta asli dengan mengubah foto di kartu ujian, hingga pada modus yang menggunakan earphone berwana seperti kulit.

Sepandai-pandainya tupai meloncat nanti jatuh jua. Selalu ada cara penanggulangan kecurangan perjokian ini yang telah dipersiapkan oleh panitia SNMPTN. Untuk SNMPTN 2011, panitia telah menyiapkan beberapa langkah pencegahan di dalam sistem pembelian formulir dan ketika proses ujian.

“Untuk sistem pembelian formulir, angkatan baru yakni 2011 dibedakan waktu pembeliannya dengan angkatan 2009 atau 2010. Di samping itu, kami juga telah menyiapkan ruang atau lokasi ujian yang berbeda untuk setiap angkatan. Namun, kesulitan soal sama,” tutur Weny.

Dengan penerapan sistem pendaftaran online, diharapkan angka kecurangan perjokian semakin menurun.  Untuk angkatan 2009 dan 2010, panitia memberikan rentang waktu tanggal 2 Mei-24 Mei 2011 (pukul 24.00 WIB). Di lain pihak, angkatan 2011 baru diperbolehkan mendaftar pada tanggal 11 Mei-25 Mei 2011 (pukul 24.00 WIB).

Ketika proses ujian berlangsung, kelas ujian antara angkatan yang berbeda juga dipisahkan. Dengan jumlah paket soal yang semakin beragam. Tahun sebelumnya, kode soal hanya 6, sedangkan tahun sekarang ada 8 kode soal. Dari kode A sampai H untuk IPA, IPS dan IPC.

“Dengan penanggulangan seperti ini, diharapkan tidak ada lagi ditemukan kasus perjokian,” tambah Weny tersenyum opitimis.

Terbukti, Langsung Keluarkan !

Pemerintah, melalui Dinas Pendidikan Nasional sangat serius untuk membasmi kejahatan perjokian ini. Melalui rektor di setiap perguruan tinggi, telah disiapkan langkah-langkah hukum yang akan dikenakan bagi mahasiswa yang terlibat perjokian. Pada kasus perjokian ITB misalkan, rektor ITB dengan tegas telah mengeluarkan mahasiswanya dari bangku akademik dan mem-blacklist nama-nama yang terlibat.

“Untuk Universitas Padjadjaran, rektor kita Ganjar Kurnia juga telah menyiapkan langkah tegas bagi mahasiswa Unpad yang terlibat perjokian. Tentunya berupa sanksi akademik yaitu dikeluarkan dari Unpad. Sedangkan yang berkaitan dengan hukum akan diserahkan ke pihak yang berwajib (polisi),” ujar Weny yang juga Humas Universitas Padjadjaran Bandung.

Semua Dipicu Uang

Dengan adanya perjokian, timbul tanda tanya akan seberapa besar kualitas pendidikan di negeri ini. Ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia sudah baik. Namun di pihak lain, pendidikan di negeri ini belum baik. Terlebih ketika tahun 2009 belasan mahasiswa tertangkap melalukan joki SNMPTN.

Endang Bahrudin, Kepala Pusat Data dan Informasi- Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Banten mengatakan istilah joki merupakan istilah baru dan biasanya dikaitkan dengan ujian SNMPTN.

“Kasus ini (perjokian SNMPTN) menggambarkan bobroknya dunia pendidikan. Jika dibiarkan akan berdampak pada menurunnya kualitas pndidikan. Jika pada awalnya saja sudah menipu diri sendiri, menipu perguruan tinggi, maka produk kedepannya tidak akan bener,” ujar Endang.

Kasus perjokian ini mencerminkan ketidakmampuan calon mahasiswa untuk menembus perguruan tinggi.
“Kalau kayak gitu mah ,bisa-bisa yang masuk kuliah orang-orangnya tambah gak bagus.  Mau SNMPTN aja pakai joki, berarti kualitas individunya kurang oke,” ujar Cintasa mahasiswa Sastra Jepang Unpad.

Tidak dipungkiri, dengan giuran sejumlah uang, banyak mahasiswa yang tergoda untuk menjadi joki SNMPTN. Namun, dengan berbagai pencegahan dan diiringi dengan aturan dan sanksi yang tegas, masihkah para joki SNMPTN bersikukuh dengan aksinya dan menggunakan modus baru? Kita tunggu saja.

Menentang Formal, Berikan Solusi

Berawal dari ketidaksukaan pada pendidikan formal, Rahmad Jabaril (43) dan Ika (41) istrinya serta dibantu oleh seorang Antropolog Jerman, Artadina Mular mendirikan komunitas Taboo, di Jalan Dago Pojok, Bandung. Sejak 2004 komunitas ini berdiri, ia bersama rekan-rekannya dari ITB terus fokus mengajak siswa-siswa SD hingga SMA untuk belajar bersama. Karena ia meyakini bahwa pendidikan hakikatnya adalah belajar bersama dengan tidak adanya paksaan.

Rahmad menilai pendidikan formal selama ini menganut sistem birokratisme, vandalisme, dan pragmatisme.

“Karena tiga masalah pendidikan itu membuat manusia mengkorupkan dirinya. Seharusnya pendidkan itu membuat manusia menemukan jati dirinya,”ujarnya.

Sebuah proses pendidikan bermula dari pendidikan keluarga. Berbagai macam ilmu disampaikan oleh orang tua melalui kegiatan sehari-hari. Sopan santun dan tingkah laku yang baik juga diajarkan. Namun, keluarga tidak bisa terus-terusan untuk mengakomodasi kebutuhan anak akan pendidikan, sehingga diberikanlah pendidikan anak kepada pendidikan luar sekolah (PLS). Selanjutnya, PLS inilah yang kemudian diformalkan, seperti jenjang pendidikan SD,SMP,SMA dan Perguruan Tinggi.

Saat ini, pendidikan luar sekolah (PLS) memiliki arti tersendiri bagi masyarakat. Pendidikan luar sekolah sendiri bisa menjadi pendidikan penambah, pelengkap dan subsitusi dari pendidikan sekolah. Misalkan, lembaga les merupakan salah satu bentuk pendidikan luar sekolah yang berfungsi sebagai penambah pendidikan sekolah akan mata pelajaran.

Dengan semangat untuk mengubah paradigma masyarakat akan pendidikan luar sekolah, Rahmad dan istrinya terus berjuang. Berjuang dengan memberikan pencerahan bahwa pendidikan itu penting dan itu bisa dilakukan melalui pendidikan luar sekolah. Tidak hanya itu, Rahmad pun terang-terangan menyatakan pendidikan sekolah di Indonesia telah gagal.

“Karena pendidikannya yang tidak benar itu yang membuat kami protes pada negara. Itu yang mendorong kami membuat pendidikan komunitas,” ujarnya sambil tersenyum opitimis akan pemikirannya.

Dr. Ayi Olim, di dalam situs pribadinya www.ayiolim.wordpress.com menjelaskan bahwa pendidikan selama ini hanya bersifat kejutan, yang secara ekstrim digambarkan Botkin (1979). Pendidikan saat ini selalu dimulai dengan senyuman dan diakhiri dengan tangisan.

Padahal akar pendidikan adalah love atau kecintaan. “Kecintaan pada generasi. Oleh karenanya, setiap keluarga merindukan generasi yang lebih mumpuni dari orang tuanya.”

Dalam sistem pendidikan sekolah saat ini, setiap orang tergopoh-gopoh memasuki dunia pendidikan dengan sejuta harapan. Namun sangat disayangkan kurangnya keterlibatan emosional dalam menapaki proses pendidikan membuat orang lebih memilih jalan pintas yang berujung pada ketidakjelasan atau tangisan.
Pada dasarnya pendidikan luar sekolah memiliki tiga hal, yaitu belajar berbudaya, belajar untuk menjadi atau tidak menjadi, dan memiliki kemampuan merubah lingkungan.

“Dulu seseorang ngamen, sekarang menjadi pemain band berkelas. Itu baru bisa digolongkan pada pendidikan luar sekolah,” ujar Ayi menceritakan bagaimana contoh hasil dari pendidikan luar sekolah.

Pendidikan luar sekolah akan lebih baik di masa depan jika memberikan keterampilan yang lebih bagi peserta didik dan tidak menanamkan mental seperti buruh atau pekerja. Hal terpenting lagi adalah peserta didik bisa menjadi diri sendiri.

Untuk merealisasikan pemikiran Rahmad, berbasiskan komunitas Taboo ia pun bercita-cita akan menjadikan kampung Dago Pojok sebagai kampung wisata pendidikan dan seni.

“Tempat belajar bersama akan diperluas. Dinding dan pagar semua rumah akan dilukis oleh teman-teman seni rupa ITB. Nantinya, kampung ini akan menjadi tempat wisata seni,” ujar  pria lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Teknologi Bandung. “Konsepnya sudah dibuat dan sudah ngobrol dengan RT, RW, Lurah dan wakil walikota. Dan mereka menyetujui program ini. Mudah-mudahan tidak lama lagi,” tambahnya.

Tidak hanya itu, kampung Dago Pojok ini juga akan dikembangkan sebagai desa yang memiliki berbagai tempat pendidikan dan bisa menghasilkan industri kreatif. Pada nantinya, desa Dago Pojok ini bisa menjadi tempat pendidikan luar sekolah yang menghasilkan masyarakat berkreatifitas tinggi dan berkecukupan dalam finansial.

Ayi Olim, ahli  yang sering memberikan seminar tentang PLS menjelaskan bahwa selama ini pendidikan luar sekolah tidak jelas. Itu dikarenakan, selama ini PLS hanya dilihat sebagai komplemen, suplemen dan substitusi. Pada kesepakatan pendidikan yang dideklarasikan di Dakar tahun 2000 terdapat hal yang menyatakan bahwa pendidikan harus memenuhi kebermutuan, dapat diukur dan memiliki life skills.

“Pendidikan yang benar adalah bagaimana bisa menciptakan sesuatu. Jangan hanya menyalahkan, tetapi ada penggalian potensi diri,” ungkap Ayi.

Lebih jauh lagi, ia menjelaskan melalui pendapat Goads (1984), pendidik Perancis, keterukuran pendidikan luar sekolah dilihat bila seorang lulusan dinyatakan telah memiliki kompetensi yang sudah ditetapkan pada jenjang tertentu

Tidak hanya itu, tuntutan lebih jauh terletak pada tujuan pembangunan milenium atau millenium development goes (MDGs) yang menuntut  peran lebih nyata dari pendidikan untuk menghapus kemiskinan dan kelaparan berat.

Beberapa negara maju seperti halnya Cina telah mencanangkan perubahan yang sangat mendasar. misalnya dari segi metode pembelajaran yang semula lebih banyak menekankan pada peluncuran dan bersifat tabularasa menjadi kemampuan untuk mengatasi masalah secara langsung.

Diakhir penjelasaannya, Ayi mengatakan bahwa mulai saat ini pendidikan harus kembali pada jati dirinya sebagai sebuah proses untuk menjadi lebih baik.  “Sistem pendidikan sekarang harus kembali ke kittah atau jati diri. Karena pendidikan adalah untuk menjadi diri sendiri dan memberikan kebermanfaatan bagi orang lain” simpulnya.

Peduli Sesama Berbagi Pendidikan

Feature
Disini di tempat ini yang penuh sampah dan kotoran manusia, masih tersisa, sisa sisa harapan untuk hidup bagi kami...
Datanglah, dan berikan kami harapan yang lebih banyak lagi...

By : Rumah Belajar Sahaja Ciroyom

Ruangan berukur 1,5x1,5 meter itu hampir sesak. Di dinding banyak tertempel berbagai macam gambar warna warni. Dua mangkok rujak pun hampir habis. Empat anak laki-laki itu pun tak kunjung puas. Sebelumnya beberapa gorengan seperti bala-bala, cireng dan tahu sudah habis mereka lahap.

Tidak hanya empat anak laki-laki itu saja, ada dua orang perempuan dan satu orang pria. Duduk melingkar dengan beberapa camilan, canda dan tawa selalu menghiasi perjalanan waktu. Empat anak laki-laki itu adalah Dendi (15), Ade (19), Irul(9) dan Yadi (11). Dua perempuan itu adalah mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Sedangkan pria tadi adalah Gamyasta Rudana (45) atau biasa dipanggil Pak Gamesh.

Pada sore itu, asar sudah menjelang magrib. Akan tetapi, canda tawa diselingi oleh kegiatan belajar belum kunjung usai di sebuah rumah singgah, Jalan Pasar Ciroyom, Kota Bandung, Jawa Barat.

Belajar bersama itulah kegiatan sehari-hari yang mereka lakukan. Setiap anak memegang sebuah buku tulis dan sebuah pensil atau pulpen. Di sebuah buku itulah mereka menuliskan pelajaran-pelajaran yang sudah ditetapkan. Ada pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, Menggambar, Ilmu Pengetahuan Alam dan sebagainya.

Antusias mereka untuk bertanya dan mengerjakan tugas mata pelajaran patut diacungkan jempol. Perawakan bersih, sopan santun yang di jaga dan kepandaian mereka yang tak lebih seperti siswa di sekolah biasa. Mungkin orang tidak menyangka bahwa mereka adalah anak-anak jalanan yang setiap hari mengamen. Anak-anak yang hampir setengah harinya habis dijalanan mendendangkan senandung untuk terus menyambung hidup hari demi hari dalam kehidupan mereka.

Rumah tempat mereka berkumpul, belajar, dan bernaung bersama disebut Rumah Belajar Sahaja Ciroyom. Sahaja merupakan kependekan dari Sahabat Anak Jalanan. Berdiri dari sebuah pemikiran santri-santri Daarut Tauhid Bandung yang memiliki kepedulian tinggi terhadap anak jalanan. Ela Nurlaela, mahasiswa PLB UPI Bandung merupakan perintis untuk mulai menjadikan Rumah belajar ini sebagai “markas” pendidikan anak jalanan. Pada akhirnya  1 Juli 2007, Rubel Sahaja Ciroyom ini pun diresmikan.

Pada awalnya, perjuangan panjang dan berat dilakukan terlebih dahulu oleh Pak Gamesh beserta teman-temannya yang peduli. Mereka ini pun turun ke jalanan, rel kereta api, dan pasar. Menemui sekumpulan anak-anak yang lagi mengamen dan mengajak ke taman untuk diberikan pelajaran.

“Memang sulit. Dulunya kami belajar di rel kereta api, di pasar dan semua itu merupakan tantangan bagi kami,” ujar Gamesh yang saat ini fokus membina anak jalanan.

Hari-hari pun dilalui dengan perjuangan tanpa henti. Pendidikan yang awalnya diberikan di rel kereta api, di pasar, dan dipinggir jalan lambat laun dilakukan disebuah rumah. Dengan bujukan dan iming-iming untuk menjadi anak yang baik, Gamesh dan temannya berhasil mengajak sepuluh orang anak jalanan untuk tinggal di sebuah gubuk kecil di jalan Pasar Ciroyom. Sebenarnya tidak sepuluh orang, ada sekitar dua puluh orang lagi yang berada di pasar Ciroyom. Kelakukan yang belum baik, pekerjaan rutin nglem masih dipertahankan, sehingga mereka belum dimasukkan ke rubel Ciroyom.

Menurut Gamesh, mereka tetap mengajak dan memberikan pendidikan pada anak-anak yang masih hobi ngleme. “Kita tidak bisa menghentikan kebiasaan mereka secara total. Kita hanya mengajak mereka tahap demi tahap untuk mengurangi kebiasaan buruk itu,” ujarnya.

Bagi mahasiswa yang memiliki kepedulian tinggi akan pendidikan anak jalanan, mereka datang dan mengajarkan ilmu yang mereka miliki. Dari berbagai universitas di kota Bandung, mahasiswa itu pun menyisihkan waktu untuk mengunjungi rubel Ciroyom ini. Misalkan Resti, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Islam Bandung sekali dalam seminggu ia menyempatkan datang sambil membawa makanan dan memberikan pelajaran bagi anak-anak di sana. Sesekali mereka menyempatkan diri untuk menginap dan masak bersama. Dia mengatakan bahwa ini merupakan kesenangan karena bisa berbagai dengan anak-anak jalanan.

”Ini merupakan kesempatan yang langka dan banyak hikmah yang bisa dipetik,” ujar Resti.


Butuh Kepercayaan

Untuk menimbulkan kepercayaan anak-anak jalanan, diperlukan waktu yang lama. “Bertemu dan bisa berbicara dengan anak jalanan itu sudah syukur. Apalagi kita bisa mengungkit latar belakang kehidupannya. Tidak mudah itu,” ujar Gamesh. Memang anak jalan kebanyakan berasal dari keluarga miskin dan orang tuanya yang tidak akur. Keluarga yang tidak bisa memberikan perlindungan dan kasih sayang pada anak-anak.

Azan magrib pun mulai berkumandang. Anak-anak tadi pun mulai bergegas. Menyimpan semua buku dan alat-alat tulisnya.

“Hayo-hayo semuanya, mari kita salat”,ujar Gamesh mengajak anak-anak.

“Mau salat di sini saja atau ke mesjid? ” ujar Irul menanyakan tempat salat.

Gamesh pun menjawab sambil terus merapikan buku-buku pelajaran, “Iya di sini saja, ambil sajadah dan bentangkan di sini”.

Dengan sigapnya anak-anak itu membentangkan sajadah dan pergi berwudhu. Budaya canda pun tak lepas, walapun mau salat.

“Salat merupakan waktu yang tepat untuk mendekatkan diri pada anak-anak di sini,” ujar Gamesh. Di samping  makan bersama, salat juga merupakan hal penting yang bisa dijadikan peluang untuk lebih mengenal si anak. Anak jalanan akan merasa sama dengan orang-orang di dekatnya jika orang lain tidak menjaga jarak.
Salat magrib pun dilakukan. Ade pun bertindak menjadi imam. Suara bacaan Salat pun mulai terdengar, disambut dengan jawaban “Amin” dari makmum.Setelah selesai salat, mereka pun kembali beraktivitas. Ada yang bermain gitar, berbincang-bincang tentang kegiatan sehari-hari dan ada juga yang kembali belajar.

Siska, koordinator rubel Ciroyom ini menjelaskan bahwa anak-anak jalanan itu sebenarnya memiliki kemampuan yang baik untuk mendapatkan pelajaran. Hanya itu membutuhkan proses yang tentu tidak sebentar.

“Kita menggunakan sistem kekeluargaan, dengan memfasilitasi anak-anak layaknya anak rumahan yang memiliki keluarga seutuhnya dan memberikan berbagai macam pengetahuan yang akan menjadikan mereka bekal hidup di masa depan. Selain itu, kita berupaya mengurangi kebiasaan mereke ngelem dengan memberikan berbagai macam kegiatan pembelajaran, agar mereka dapat menghilangkan kecanduan lem tersebut,” ujar Siska yang juga mahasiswa Akuntansi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bandung.

Tidak hanya diberikan pelajaran, rubel Ciroyom juga memfasilitasi beberapa orang anak untuk yang memiliki kemampuan baik untuk mengikuti les komputer. Di samping itu, ada juga disuruh bekerja di tukang bengkel. Hal ini sangat membantu anak-anak tersebut bisa bertahan hidup tanpa mengamen.

“Saya sekarang ikut kursus komputer,” ujar Ade yang bercita-cita untuk membuat game tentang anak jalanan.
Kebiasaan nglem merupakan hal tersulit untuk dihilangkan bagi anak jalanan. “Saya pernah ditertawakan teman ketika ngamen karena sudah gak nglem lagi”, ungkap Dendi sambil menyalakan rokoknya. “Tetapi saya sekarang gak nglem lagi kang. Rokok doank, susah berhenti,” imbuhnya sambil tersenyum dan mulai menghisap asap rokok.

Memang kesulitan untuk menghilangkan anak jalanan dari kebiasaan nglem adalah tantangan terbesar yang dihadapi oleh para pembina rumah belajar Sahaja Ciroyom. “Karena pengaruh lingkungan yang amat kuat sehingga pendekatannya pun harus hati-hati,” tambah Siska.

Laila Qodariah, Ahli Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja mengatakan bahwa prinsip anak itu belajar dari Kognitif social learning. “Artinya, anak belajar melalui imitasi pada orang yang signifikan di lingkungan mereka”. Di samping itu, pribadi seorang anak bisa berubah tergantung di lingkungan mana ia dominan tinggal.


Mereka Pun Punya Masa Depan


Ciroyomku malang Ciroyomku sayang, kau adalah subuhku.

Kalimat itu dipetik pada akun facebook Rumah Belajar Sahaja Ciroyom. Kalimat tersebut menggambarkan, bahwa di pasar Ciroyom dan ditumpukan sampah masih terdapat banyak harapan. Dengan keikhlasan para relawan untuk membagikan ilmunya pada anak-anak jalananlah yang hingga sekarang rubel ini tetap ada.
Rumah belajar yang berpenghuni 10 orang ini, hampir semuanya sudah menunjukkan perubahan drastis ke arah yang lebih baik. Sehingga kakak pembina di sana mengatakan bahwa anak jalanan merupakan anak-anak yang hebat.

“Mereka adalah manusia luar biasa yang dapat survife dalam menjalani kehidupan. Mereka adalah anak-anak berbakat, yang kadang kita sebagai relawan dapat belajar banyak dari mereka tentang pentingnya menjalani hidup dengan penuh rasa syukur. Selain itu mereka punya hak, kewajiban yang sama dengan anak lainnya. mereka pun mempunyai potensi-potensi luar biasa yang layak dan harus dikembangkan,” ujar Siska menanggapi bagaimana potensi dan perkembangan anak ketika sudah masuk rumah belajar Ciroyom.

Kepedulian beberapa orang kakak pembina untuk mengajarkan anak-anak jalanan bisa digolongkan pada pendidikan luar sekolah (PLS). Pendidikan luar sekolah terdiri dari tiga bentuk, sebagai pelengkap, penambah dan pengganti. Fungsi pengganti adalah bentuk yang lengkap untuk menggambarkan rumah belajar Sahaja Ciroyom.

Ahli Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Ayi Olim, mengatakan ada yang harus diperhatikan dalam menangani anak jalanan. Anak jalanan yang hanya mengalihkan meminta di jalan dengan meminta di tempat mereka dinaungi, tidak bisa dikelompokkan dalam pendidikan luar sekolah.

“Kecuali, jika anak jalanan bisa mandiri dan memiliki keterampilan nantinya.” Imbuh Ayi. Penanganan anak jalanan saat ini ada yang berupa model saja. Akan tetapi, ada juga yang benar-benar humanisme. “Anak jalanan diberi bantuin di rumah singgah, itu kan nothing to do”, karena pada hakikatnya pendidikan luar sekolah itu adalah mempersiapkan generasi selanjutnya untuk menjadi diri sendiri dan bisa kreatif menciptakan sesuatu.

Rubel Sahaja Ciroyom sudah menginjak usia 4 tahun. Di dalam umurnya yang masih muda, rubel ini sudah mendapat tanggapan positif dari berbagai pihak dan sudah dikembangkan ke daerah Cimahi dan Cimindi. Dalam acara-acara tertentu, dinas sosial sudah memberikan bantuan finansial, tetapi untuk biaya operasional sehari-hari mereka belum mendapatkan bantuan.

“Untuk Ciroyom sendiri belum pernah, kita cukup dibantu oleh teman-teman mahasiswa dalam pendanaannya. Sedangkan rubel di Cimahi pernah dibantu dinsos dalam beberapa event,” ungkap Siska.
Siska menambahkan bahwa para pembina rubel Ciroyom, semakin berharap datangnya banyak relawan yang peduli akan pendidikan anak jalanan. Karena mereka juga manusia seperti kita dan memiliki masa depan yang masih bisa diperjuangkan.