Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Mencari Agama dalam Waisak


http://kvltmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/Lampion-Terbang-perayaan-Waisak.jpg
Pelepasan lampion. sumber: ini


Perayaan Hari Besar Tri Suci Waisak 2557 BE/2013 di Indonesia telah berlalu. Namun, perayaan hari suci itu di berbagai perbincangan masyarakat Indonesia meninggalkan cerita kelam. Di lini masa media sosial, forum komunitas di internet, pemberitaan media massa hingga warung kopi, masyarakat beradu argumen mengenai cerita waisak tahun ini.

Cerita itu bermula ketika terjadinya ketidaktertiban pengunjung untuk memasuki kawasan Candi Borobudur. Cerita itu memuncak ketika pelepasan seribu lampion gagal dilaksanakan karena terganggung guyuran hujan. Cerita lain yang juga kembali dikisahkan adalah mengenai etika pengunjung yang tidak beradab. Misalkan cara berpakaian pengunjung dan etika memotret.

Di sini saya tidak ingin memperdebatkan pro kontra gagalnya perayaan lampion atau etika pengunjung yang tidak beradab. Toh seribuan lampion telah diterbangkan sehari sesudahnya, dan tentunya tidak banyak masyarakat yang mengetahui perayaan itu. Ada esensi yang menurut saya cukup penting diketengahkan dalam memperbincangkan toleransi antar umat beragama. Dalam hal ini kata kuncinya adalah AGAMA.

Masih teringat jelas pelajaran guru agama saya di sekolah menengah atas. Guru saya menjelaskan bahwa kata ‘AGAMA’ berasal dari bahasa Sansakerta yaitu A=tidak dan GAMA=kacau. Ketika digabungkan kata AGAMA memiliki arti tidak kacau. Saya mencoba merujuk pada kamus besar bahasa Indonesia. Di sana agama memiliki arti lain yaitu sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Dari penjelasan di atas, saya coba simpulkan ada tiga poin penting yaitu tidak kacau, tata keimanan pada Tuhan dan tata pergaulan antar manusia serta lingkungannya. Sesuai dengan judul tulisan ini, saya coba mencari agama dalam perayaan waisak tahun 2013 ini.


Mengejar Perayaan Seribu Lampion di Candi Borobudur

Setiap tahun di saat puncak perayaan Trisuci Waisak di Candi Borobudur selalu menjadi magnet kuat bagi masyarakat Indonesia dan manca negara untuk dikunjungi. Perayaan pelepasan seribu lampion menjadi alasan utama bagi wisatawan. Begitu saya, perayaan lampion menjadi titik tolak untuk ikut serta dalam perayaan Trisuci Waisak 2557 BE/2013, di Magelang, Jawa Tengah.

Langit Yogyakarta, Sabtu 25/5, terlihat mendung berawan. Sesekali rintik hujan telah menetesi pelan  bumi Yogyakarta. Melihat ke arah utara, Magelang,  langit putih terang terlihat. Ada perasaan optimis bahwa cuaca akan cerah. Tentunya dengan harapan perayaan seribu lampion akan berlangsung semarak di bawah sinar bulan purnama.

Bersama rombongan, saya pun menyusuri padatnya jalur  lalu lintas Yogyakarta menuju Candi Borobudur. Sepanjang 42 km perjalanan menuju Borobudur berbagai kendaraan berpacu mengejar waktu untuk perayaan lampion. Mobil berplat daerah luar Yogyakarta dan Jawa Tengah harus antri di beberapa titik kemacetan. Lain dengan kendaraan motor yang terus menyusuri celah kosong jalan.

Di tengah perjalanan, hujan pun mengguyur. Tapi tim dan saya tetap melanjutkan perjalanan walau didera hujan. Kesalahan utamanya, tidak membaca jas hujan. Demi langit terang, cuaca cerah di langit Magelang, terbisat asa bahwa cuaca pasti cerah. Motor pun terus dipacu melewati lalu lintas yang semakin padat di sore hari.

Melewati pertigaan ke arah Candi Borobudur, cuaca pun cerah. Langit putih, matahari sore mengintip di balik barat awan sore hari. Perjalanan pun terus dilanjutkan, menjelang Candi Mendut mulai terlihat tumpukan wisatawan domestik dan internasional di pinggir jalan. Ada yang menggunakan sepeda motor, mobil, mini bus dan bus besar. Di wajah mereka terlihat suasana hati nan bahagia karena mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan pelepasan seribu lampion nanti malam.

Suasana Candi Mendut usai salah satu prosesi upacara waisak

 Beberapa prosesi terlewati
 
Saya tidak sempat untuk melihat beberapa prosesi upacara waisak karena semua acara sudah dipusatkan di Candi Borobudur sore itu. Saya tak bisa menyaksikan upacara  prosesi kirab air suci dan api abadi dari Candi Mendut ke Borobudur. Prosesi upacara itu berlangsung pada pukul 14.00 WIB. Pada prosesi itu, tidak kurang dari 100 Bhiksu dan Bhiksuni Sangha Theravada dan Mahayana akan berjalan melewati 3,7 km jarak tempuh Candi Mendut ke Candi Borobudur.

Sebelum upacara kirab air suci dan api abadi, pada pagi harinya sekitar pukul 07.30 WIB  digelar tradisi Pindapatta. Biasanya pada prosesi ini para wisatawan dan fotografer akan terus mengikuti jalannya prosesi. Pindapatta itu sendiri berasal dari Bahasa Pali yang artinya menerima persembahan makanan. Namun dalam perkembangannya persembahan berupa uang pun dilakukan oleh para umat Buddha.

Proses Pindapatta ini dimulai dengan doa bersama di tempat ibadah Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio di alun alun Kota Magelang, dengan terlebih dahulu mengadakan doa yang dipimpin Ketua Dewan Sangha Perwakilan Buddha Indonesia (Walubi), Bhiksu Tadisa Paramita Mahasta Vira. Pada waisak 2557 BE/2013 ini, berdasarkan informasi dari Kompas.com, diikuti oleh Bhiksu dari mancanegara Australia, China, Singapura dan Thailand. Melalui tradisi ini, umat Buddha ingin menciptakan jodoh baik dan juga memberikan kesempatan untuk turun membantu lingkungan setempat agar mempunyai rezeki dan terhindar dari malapetaka. Bagi Anda yang ingin melihat langsung prosesi ini dan prosesi lainnya, datanglah sedari pagi.

Mereguk Ruh Dini Hari di Desa Tertinggi Pulau Jawa


Pernahkah Anda merasa dingin menggigil, gigi bergemetukan, dan pakaian  di badan seperti tak berguna di waktu dini hari di sebuah desa tertinggi Pulau Jawa? Jika belum, saatnya Anda meluangkan waktu untuk mengunjungi Desa Sembungan, Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo,Jawa Tengah, Indonesia.

Pertengahan April 2013, saya berkesempatan mengunjungi desa yang terletak di ketinggian lebih dari 2000 mdpl itu.  Desa Sembungan juga dikenal sebagai Desa Matahari (Village of Sun). Mungkin orang akan beranggapan desa ini berudara panas karena dijuluki Desa Matahari. Anggapan itu termentahkan ketika saya berkunjung ke sana di saat matahari belum menyinari tanah itu. Udaranya sungguh dingin.

Sekitar pukul 01.00 wib dini hari, saya menginjakkan kaki di perkampungan yang berpenduduk sekitar 3000 jiwa. Suasana didominasi keheningan, sesekali hembusan kabut tebal putih menderu deru. Anda mungkin bisa bayangkan desa ini seperti desa tanpa penghuni. Tak ada suara aktivitas manusia sedikitpun. Tak ada manusia di pos ronda. Begitu pun suara televisi. Kondisi sekitar diterangi lampu neon di pelataran rumah penduduk.

Mengenang Kepergian Nenek

Dua puluh dua tahun berlalu singkat. Perjalananku bersama waktu menapaki bumi daerah lain terus berlalu. Berkelana menuntut ilmu meninggalkan kampung nun jauh di perbatasan Provinsi Jambi Sumatera Barat. Semua perjalanan ini seperti terhenti mendadak  ketika kabar itu datang, Kamis 28 Maret sekitar pukul 21.30 WIB. Nenekku wafat, kembali pada Sang Pencipta.

Kabar itu bermula dari panggilan telpon mama yang isinya memintaku untuk ikhlas jika nenek kembali pada Sang Kuasa.

"Ikhlaskan ya Nak jika nenekmu........, nenek udah tidak boleh dipanggil panggil (pertanda maut sudah mendekat)," ujar mamaku.

Aku hanya bisa terdiam. Tak tahu mau berucap apa. Semua kenangan dan ingatan akan nenek membuncah. Keluar berdesakan dari memori dan hati. Hatiku berteriak ingin berada di dekat nenek.

Selang beberapa menit, apa yang sedari tadi aku khawatirkan pun terjadi. "Nenek sudah meninggal," itu pesan singkat dari mamaku. Aku tertunduk, menarik nafas panjang, terpusar kegamangan diri yang tak tahu berbuat apa.

Cinta Hati Si Ibu*

Ada seorang pria muda mencintai seorang pekerja rumah tangga yang menggodanya, “kamu takut?”
Ia meminta, “berikan padaku hari ini kepala milik ibumu di atas sebuah nampan”.

Pria muda itu pergi dan memenggal kepala ibunya, dirobek hati merah ibunya dari payudaranya

Lalu ia lari ke sang kekasih,
Tetapi terpleset saking terburu burunya
Saat hati si ibu jatuh bergelundung di  tanah
Sebuah suara terdengar
Suara itu berkata dengan lembut: “anakku, apakah kau terluka?”**

*Judul dari penyadur
**Karya Sara Ruddick, “Maternal Thinking”, dalam Jurnal Perempuan edisi 58, Maret 2008.

Bung Hatta: Tepat Waktu untuk Bangsa Terlambat

...Bung Hatta adalah tepat waktu untuk sebuah bangsa yang
selalu terlambat ...

Sajak TAUFIK ISMAIL (10 November 2003)

Rindu Pada Stelan Jas Putih dan Pantalon Putih Bung Hatta

I.
Di awal abad 21, pada suatu Subuh pagi aku berjalan kaki di Bukittinggi, Hampir tak ada kabut tercantum di leher Singgalang dan Merapi, yang belum dilangkahi matahari, Lalu lintas kota kecil ini dapat dikatakan masih begitu sunyi, Menurun aku di Janjang Ampek Puluah, melangkah ke Aue Tajungkang, berhenti aku di depan rumah kelahiran Bung Hatta,

Di rumah beratap seng nomor 37 itulah, di awal abad 20, lahir seorang bayi laki-laki yang kelak akan menuliskan alphabet cita-cita bangsa di langit pemikirannya dan merancang peta Negara di atas prahara sejarah manusianya,

Dia tak suka berhutang. Sahabat karibnya, Bung Karno, kepada gergasi-gergasi dunia itu bahkan berteriak, “Masuklah kalian ke neraka dengan uang yang kalian samarkan dengan nama bantuan, yang pada hakekatnya hutang itu”.

Suara lantang 39 tahun yang silam itu terapung di Ngarai Sianok, hanyut di Kali Brantas, menyelam di Laut Banda, melintas di Selat Makassar, hilang di arus Sungai Mahakam, kemudian tersangkut di tenggorokan 200 juta manusia,

Dua ratus juta manusia itu, terbelenggu rantai hutang di tangan dan kaki, di abad kini. Petinggi negeri di lobi kantor Pusat Pegadaian Dunia duduk antri, membawa kaleng kosong bekas cat minta sekedarnya diisi. Setiap mereka pulang, hutang menggelombang, setiap bayi lahir langsung dua puluh juta rupiah berkalung hutang, baru akan lunas dua generasi mendatang.

II.
Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, aku merenung di depan rumah beratap seng di Aue Tajungkang nomor 37 ini, yang di awal abad 20 lalu tempat lahir seorang bayi laki-laki

Aku mengenang negarawan jenius ini dengan rasa penuh hormat karena rangkaian panjang mutiara sifat: tepat waktu, tunai janji, ringkas bicara, lurus jujur, hemat serta bersahaja,

Angku Hatta, adakah garam sifat-sifat ini masuk ke dalam sup kehidupanku? Kucatat dalam puisiku, Angku lebih suka garam dan tak gemar gincu. Tujuh windu sudah berlalu, aku menyusun sebuah senarai perasaan rindu,

Rindu pada sejumlah sifat dan nilai, yang kini kita rasakan hancur bercerai-berai,

Kesatuan sebagai bangsa, rasa bersama sebagai manusia Indonesia, ikatan sejarah dengan pengalaman derita dan suka, inilah kerinduan yang luput dari sekitar kita,

Kita rindu pada penampakan dan isi jiwa bersahaja, lurs yang tabung, waktu yang tepat berdentang, janji yang tunai, kalimat yang ringkas padat, tata hidup yang hemat,

Tiba-tiba kita rindu pada Bung Hatta, pada stelan jas putih dan pantaloon putihnya, symbol perlawanan pada disain hedonisme dunia, tidak sudi berhutang, kesederhanaan yang berkilau gemilang,

Kesederhanaan. Ternyata aku tak bisa hidup bersahaja. Terperangkap dalam krangkeng baja materialisme, boros dan jauh dari hemat, agenda serba bendaku ditentukan oleh merek 1000 produk impor, iklan televise dan gaya hidup imitasi,

Bicara ringkas. Susah benar aku melisankan fikiran secara padat. Agaknya genetika Minang dalam rangkaian kromosomku mendiktekan sifat bicaraku yang berpanjang-panjang. Angk Hatta, bagaimana Angku dapat bicara ringkas dan padat? Teratur dan apik? Aku mengintip Angku pada suatu makan siang di Jalan Diponegoro, yang begitu tertib dan resik,

Tepat waktu. Bung Hatta adalah tepat waktu untuk sebuah bangsa yang selalu terlambat. Dari seribu rapat, sembilan ratus biasanya telat. Kegiatanku yang tepat waktu satu-satunya ialah ketika berbuka puasa.

Kelurusan dan kejujuran. Pertahanan apa yang mesti dibangun di dalam sebuah pribadi supaya orang bisa selalu jujur? Jujur dalam masalah rezeki, jujur kepada isteri, jujur kepada suami, jujur kepada diri
sendiri, jujur kepada orang banyak, yang bernama rakyat? Rakyat yang di tipu terus-menerus itu.

Ketika kita rindu bersangatan kepada sepasang jas putih dan pantaloon putih itu, kita mohonkan kepada Tuhan, semoga nilai-nilai dan sifat-sifat luhur yang telah hancur berantakan, kepada kita utuh dikembalikan.

III.

Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, di depan rumah beratap seng di Aue Tajungkang nomor 37 ini aku menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian aku masuk ke dalamnya, dan di ruang tamu menatap potret dinding aku berdiri,

Tampaklah Bung Hatta di antara rakyat banyak dalam gambar itu. Tiba-tiba Bung Hatta keluar dari gambar sepia itu.

Kemudian Bung Hatta berkata: “Ceritakan Indonesia kini menurut kamu”

Aku tergagap bicara. ^Angku, mangadu ambo kini. Angku, saya mengadu kini. Krisis berlapis-lapis bagaikan tak habis-habis. Krisis ekonomi, politik, penegakan hokum, pendidikan, pengangguran, kemiskinan, keamanan, kekerasan, pertumpahan darah, pemecah-belahan, dan di atas semua itu,
krisis akhlak bangsa,

“Otoritarianisme panjang menyuburkan perilaku materialistic, tamak, serakah, tipu-menipu, konspiratif, mengutamakan keluarga dekat, memenangkan golongan sendiri, dan tingkah laku feodalistik,

Krisis nilai luhur merubah potret wajah bangsa menjadi anarkis, bringas, ganas, tak bersedia kalah, tak segan memfitnah, memaksakan kehendak, pendendam, perusak, pembakar dan pembunuh. Kekerasan, api,
batu, peluru, puing mayat, asap dan bom sampai ke seluruh muka bumi,

Tetapi tentang bom itu, nanti dulu. Sepuluh dua puluh tahun lagi, lihat, akan terungkap apa sebenarnya sandiwara besar skenario dunia yang dipaksakan hari ini. Mentang-mentang.

Aku menarik nafas. Bung Hatta diam. Tak ada senyum di wajahnya Angku Hatta. Harga apa saja di Indonesia naik semua, kecuali satu. Harga nyawa. Nyawa murah dan luar biasa jatuh nilainya. Di setiap demo orang mati. Tahanan polisi gampang mati. Pencuri motor dibakar mati. Anak-anak sekolah belasan tahun dalam tawuran, tanpa rasa salah dengan ringan membunuh temannya lain sekolah. Mahasiswa senior yang garang menggasak, menggampar, menyiksa juniornya sampai mati. Tahun depan pembunuhan di kampus lain di ulang lagi. Dendam dipelihara dan diturunkan”

Sesak nafasku. Bung Hatta diam. Matanya merenung jauh.

Alkohol, nikotin, judi, madat, putau, ganja dan sabu-sabu telah meruyak dan mencengkeram negeri kita, mudah dibeli di tepi jalan, di sekolah, di mana-mana. Indonesia telah menjadi sorga pornografi paling murah di dunia. Dengan uang sepuluh ribu anak SLTP dengan mudah bisa membeli VCD coitus lelaki-perempuan kulit putih 60 menit, 6 posisi dan 6 warna. Anak-anak SD membaca komik cabul dari Jepang. Di televisi peselingkuhan dianjurkan dan diajarkan.”

Gelombang hidup permisif, gaya serba boleh ini melanda penulis-penulis pula.

Penulis-penulis perempuan, muda usia, berlomba mencabul-cabulkan karya, asyik menggarap wilayah selangkang dan sekitarnya dan kompetisi Gerakan Syahwat Merdeka. Betapa tekun mereka melakukan rekonstruksi dan dekonstruksi daftar instruksi posisi syahwat selangkangan abad 21 yang posmo perineum ini.

Dari uap alkohol, asap nikotin dan narkoba, dari bau persetubuhan liar 20 juta keeping VCD biru, dari halaman-halaman komik dan buku cabul menyebar hawa lendir yang mirip aroma bangkai anak tikus terlantar tiga hari di selokan pasar desa ke seluruh negeri.

Aku melihat orang-orang menutup hidung dan jijik karenanya. Jijik. Malu aku memikirkannya”

Jan aku tenan isin sakpore, sakpore, isin buanget dadi wong Indonesia, Lek asane dadi nak Indonesia,

Masiripka mancaji to Indonesia,

Jelema Indonesia? Eraeun urang, eraeun,

Malu ambo, sabana malu jadi urang Indonesia,!(*)

Malu aku jadi orang Indonesia.
(*) Bahasa Jawa, Bali, Bugis, Sunda dan Minangkabau.

Aku berhenti bicara. Bung Hatta masih tetap diam. Matanya merenung sangat jauh. Tiba-tiba bayangan wajahnya menghilang.

IV
Indonesia tersaruk-saruk.
Terpincang-pincang dan sempoyongan,
Dicambuki krisis demi krisis seperti tak habis-habis.
Indonesia kini sedang menangis.
Dari status Negeri Cobaan,
Dia turun derajat menjadi Negeri Azab,
Dan kini sedang bergerak merosot kearah Negeri Kutukan.
Indonesia tak habis-habis menangis.

Kusut, masai,
Nestapa, duka,
Pengap dan gelap.
Dari dalam sumur berlumpur ini,
Dari dasar tubir yang menyesakkan nafas ini
Kami menengadah ke atas,
Masih melihat sepotong langit
Dan mengharapkan cahaya.
Kami tetap berikhtiar,
Terus bekerja keras
Seraya menggumamkan doa.

Tuhan,
Jangan biarkan negeri kami
Yang kini sudah menjadi Negeri Azab,
Bergerak merosot kea rah Negeri Kutukan.

Tuhan,
Mohon,
Jangan ditolak

Do’a kami.
2003

sumber

Ketika Iblis Berani Jujur

Iblis Terpaksa Bertamu Kepada Rasulullah SAW

(dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas)

Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.”

Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”

Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.”

Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”

Umar bin Khattab berkata: “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”.

Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”

Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.

Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin…”

Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”

Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”
“Siapa yang memaksamu?”

Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata:
“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri.beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”

“Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”

Orang Yang Dibenci Iblis

Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”

“Siapa selanjutnya?”
“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”

“lalu siapa lagi?”
“Orang Aliim dan wara’ (Loyal)”

“Lalu siapa lagi?”
“Orang yang selalu bersuci.”

“Siapa lagi?”
“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain.”

“Apa tanda kesabarannya?”
“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang -orang yang sabar.”

” Selanjutnya apa?”
“Orang kaya yang bersyukur.”

“Apa tanda kesyukurannya?”
“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.”

“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”
“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”

“Umar bin Khattab?”
“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.”

“Usman bin Affan?”
“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”

“Ali bin Abi Thalib?”
“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT).


Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis

“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?”
“Aku merasa panas dingin dan gemetar.”

“Kenapa?”
“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”

“Jika seorang umatku berpuasa?”
“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.”

“Jika ia berhaji?”
“Aku seperti orang gila.”

“Jika ia membaca al-Quran?”
“Aku merasa meleleh laksana timah diatas api.”

“Jika ia bersedekah?”
“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”

“Mengapa bisa begitu?”
“Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. Yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.”

“Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”
“Suara kuda perang di jalan Allah.”

“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?”
“Taubat orang yang bertaubat.”

“Apa yang dapat membakar hatimu?”
“Istighfar di waktu siang dan malam.”

“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”
“Sedekah yang diam – diam.”

“Apa yang dapat menusuk matamu?”
“Shalat fajar.”

“Apa yang dapat memukul kepalamu?”
“Shalat berjamaah.”

“Apa yang paling mengganggumu?”
“Majelis para ulama.”

“Bagaimana cara makanmu?”
“Dengan tangan kiri dan jariku.”

“Dimanakah kau menaungi anak – anakmu di musim panas?”
“Di bawah kuku manusia.”


Manusia Yang Menjadi Teman Iblis

Nabi lalu bertanya : “Siapa temanmu wahai Iblis?”
“Pemakan riba.”

“Siapa sahabatmu?”
“Pezina.”

“Siapa teman tidurmu?”
“Pemabuk.”

“Siapa tamumu?”
“Pencuri.”

“Siapa utusanmu?”
“Tukang sihir.”

“Apa yang membuatmu gembira?”
“Bersumpah dengan cerai.”

“Siapa kekasihmu?”
“Orang yang meninggalkan shalat jumaat”

“Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?”
“Orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja.”


Iblis Tidak Berdaya Di hadapan Orang Yang Ikhlas
Rasulullah SAW lalu bersabda : “Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.”

Iblis segera menimpali:
“Tidak,tidak.. tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikanku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.”

“Siapa orang yang ikhlas menurutmu?”

“Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. "

"Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjunang, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. "

"Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.”

Iblis Dibantu oleh 70.000 Anak-Anaknya
“Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan.

Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak – anak muda, sebagian untuk menganggu orang -orang tua, sebagian untuk menggangu wanta – wanita tua, sebagian anak -anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.

Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.

Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.

Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.

Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.”

Syaithan juga berkata, “keluarkan tanganmu”, lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya.

“Mereka, anak – anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.
Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.

Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.”

Cara Iblis Menggoda
“Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?

Akulah mahluk pertama yang berdusta.

Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad?

Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar – benar menasihatinya.

Sumpah dusta adalah kegemaranku.

Ghibah (gossip) dan Namimah (Adu domba) kesenanganku.

Kesaksian palsu kegembiraanku.

Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata – kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. jadi semua anak – anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, CERAI.

Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya.


Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya ‘lihat kiri dan kananmu’, iapun menoleh. pada saat iatu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan ’shalatmu tidak sah’

Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.

Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.

jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.

Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.

Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika mnguap, syaithan akan masuk ke dalamdirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia.

Dan iapun semakin taat padaku.

Kebahagiaan apa untukmu, sedang aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. aku katakan padaknya, ‘kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat.’

Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.

Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.

Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari islam?”

10 Hal Permintaan Iblis kepada Allah SWT
“Berapa hal yang kau pinta dari Tuhanmu?”

“10 macam”

“Apa saja?”

“Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan.”
Allah berfirman,

“Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64)

“Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.
Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.

Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.

Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.

Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.

Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.

Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.

Aku minta agar Allah memberikanku saudara, maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk
maksiat sebagai saudaraku.”

Allah berfirman,

“Orang -orang boros adalah saudara – saudara syaithan. ” (QS Al-Isra : 27).

“Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.

Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.
Allah menjawab, “silahkan”, dan aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat.

Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.”

Iblis berkata : “Wahai muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.

Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun…!!!
Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah.

Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.

Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.”
Rasulullah SAW lalu membaca ayat :

“Mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 - 119)

juga membaca,

“Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab : 38)

Iblis lalu berkata:
“Wahai Muhammad Rasulullah, takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. dan aku tak berbohong.”

Sampaikanlah risalah ini kepada saudara-saudara kita, agar mereka mengerti dengan benar, apakah tugas-tugas dari Iblis atau Syaithan tsb. Sehingga kita semua dapat mengetahui dan dapat mencegahnya dan tidak menuruti bisikan dan godaan Iblis atau Syaithan.

Mudah-mudahan dengan demikian kita dapat setidak-setidaknya membuat hidup ini lebih nyaman dan membuat tempat serta lingkungan kita lebih aman.


Allahualam bi shawab


Lahaula walaquata illabillahi 'aliyuladziim.


sumber tulisan 

Some things are more important.

SON: "Daddy, may I ask you a question?"

DAD: "Yeah sure, what is it?"

SON: "Daddy, how much do you make an hour?"

DAD: "That's none of your business. Why do you ask such a thing?"

SON: "I just want to know. Please tell me, how much do you make an hour?"

DAD: "If you must know, I make $100 an hour."

SON: "Oh! (With his head down).

SON: "Daddy, may I please borrow $50?"

The father was furious.

DAD: "If the only reason you asked that is so you can borrow some money to buy a silly toy or some other nonsense, then you march yourself straight to your room and go to bed. Think about why you are being so selfish. I work hard everyday for such this childish behavior." The little boy quietly went to his room and shut the door. The man sat down and started to get even angrier about the little boy's questions. How dare he ask such questions only to get some money? After about an hour or so, the man had calmed down, and started to think: Maybe there was something he really needed to buy with that $ 50 and he really didn't ask for money very often. The man went to the door of the little boy's room and opened the door. DAD: "Are you asleep, son?"

SON: "No daddy, I'm awake".

DAD: "I've been thinking, maybe I was too hard on you earlier. It's been a long day and I took out my aggravation on you. Here's the $50 you asked for." The little boy sat straight up, smiling.

SON: "Oh, thank you daddy!" Then, reaching under his pillow he pulled out some crumpled up bills. The man saw that the boy already had money, started to get angry again. The little boy slowly counted out his money, and then looked up at his father. 

DAD: "Why do you want more money if you already have some?"

SON: "Because I didn't have enough, but now I do. "Daddy, I have $100 now. Can I buy an hour of your time? Please come home early tomorrow. I would like to have dinner with you." The father was crushed. He put his arms around his little son, and he begged for his forgiveness. It's just a short reminder to all of you working so hard in life. We should not let time slip through our fingers without having spent some time with those who really matter to us, those close to our hearts. Do remember to share that $100 worth of your time with someone you love? If we die tomorrow, the company that we are working for could easily replace us in a matter of days. But the family and friends we leave behind will feel the loss for the rest of their lives. And come to think of it, we pour ourselves more into work than to our family. Some things are more important. From facebook shared

Hak Cipta dan Kesejahteraan

Para pengarang di negeri minim apresiasi. Maka, tak heran bila sering dijumpai mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Ada sebuah esai sarkastis yang ditulis penyair Sitok Srengenge di sebuah media yang menceritakan pengalamannya ketika hendak membuat kartu tanda penduduk (KTP) di kelurahan. Dia diminta mengisi formulir seperti pekerjaan. Sitok bingung ketika akan mengisinya sebagai penyair, sastrawan, novelis, atau cerpenis.

Tampaknya, pekerjaan penulis belum diakui di negeri ini. Uniknya, dalam kolom profesi malah terdapat ‘paranormal.’ Sastrawan kondang itu berpendapat, di negara terbesar keempat dunia ini para normal lebih dikenal daripada penulis!

Kisah tersebut sekadar menggambarkan bahwa penulis atau pengarang dan turunannya seperti novelis, cerpenis, penyair, kolomnis, dan seterusnya sangat kurang dihargai. Para pengarang juga mesti memperjuangkan sendiri honor yang tak pernah mengikuti inflasi.

Sesungguhnya, menulis atau mengarang adalah pekerjaan yang seharusnya immaterial. Bahasa lugasnya, kalau mau mengarang, jangan memikirkan honor karena hanya akan memperburuk kualitas karya. Begitulah dia mengarang bukan untuk mencari uang. Di sisi lain, ada pengarang yang mencari uang. Dengan kata lain, dia menulis untuk mencari nafkah seperti sebagai novelis.

Gambaran tersebut mau menjelaskan betapa miris nasib kaum pengarang. Mereka kerap tidak dipedulikan penerbit. Padahal penerbit adalah pihak yang bekerja sama secara fair dengan para pengarang. Untuk itu, sudah seharusnya ada "peninjauan kembali" hubungan antara pengarang dan penerbit terutama dalam persentase penghargaan pada penulis.

Dalam penerbitan buku, misalnya, tak jarang pengarang hanya memperoleh tak lebih dari sepuluh persen laba hasil penjualan. Surat kabar acap kali lamban memenuhi kewajiban terhadap pengarang. Selain honor yang diterima kecil, pelunasannya pun terkadang membutuhkan waktu yang sangat lama.

Di sisi lain, tulisan para pengarang juga sering tidak dihargai hak intelektualnya, sehingga banyak yang meniru (memplagiat). Memang dalam era digital sangat meudah membajak tulisan. Banyak yang melakukan peniruan atau mengambil saripati untuk dikembangkan menjadi tulisan baru. Praktik plagiasi bahkan terjadi di kalangan pendidikan di mana untuk memperoleh gelar kerap kali harus meniru hasil karanya orang lain.

"Budaya" membajak amat kuat di masyarakat. Honor yang kecil diperparah dengan perilaku gemar membajak. Jadilah pengarang ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sampai kini perlindungan hukum terhadap hasil karya sastra belum maksimal. Semua pihak harusnya menghargai hak-hak intelektual seseorang.

Hak
Hak cipta merupakan perlindungan hukum yang diberikan kepada pengarang atau pekerja seni atas karya di bidang ilmu pengetahuan, sastra, dan seni. Pemegang hak cipta dan ahli warisnya memiliki hak eksklusif buat (atau memberi izin pihak lain untuk) menggunakan karyanya.

Pemegang hak cipta juga berhak mencegah pihak lain untuk mereproduksi karya dalam segala bentuknya, mengumumkan, menerjemahkan ke bahasa lain, dan/atau mengadaptasi karya seperti dari novel ke skenario untuk sebuah film atau sinema televisi. Namun pelanggaran tetap saja masih sering terjadi.

Istilah copyright berasal dari negara-negara dengan sistem common law. Dalam sistem civil law, di mana Indonesia merupakan penganutnya, hak cipta dikenal dengan istilah author’s right atau droit d’auteur, dereco de autor, Urheberrecht (Graeme B Dinwoodie dalam Dina Widyaputri Kariodimedjo, 2010).

Copyright terdiri dari hak ekonomi dan moral. Hak ekonomi adalah memberi eksklusivitas pencipta untuk memperoleh manfaat finansial dari karyanya. Hak ekonomi meliputi untuk memperbanyak, mendistribusi, menerjemahkan, mengadaptasi, membuat pertunjukan, dan/atau memperagakan suatu karya.

Hak moral terdiri dari paternity right, integrity right, dan privacy right. Hak ekonomi dapat dipindahtangankan ke pihak lain yang dapat juga memindahkannya lagi. Hak ekonomi memiliki masa berlaku. Sementara hak moral tidak dapat dipisahkan dari pengarang dan ahli waris serta berlaku selamanya.

Maka, jelaslah bahwa pengarang sejatinya memiliki hak ekonomi dan moral yang inheren. Namun kenyataannya, kedua hak tersebut belum dimengerti pengarang yang biasa meniru. Budaya membajak di negeri ini sudah kronis, sehingga sangat sulit untuk diberantas.

Hak ekonomi, buat para pengarang, barangkali memang ada. Sebagian pengarang dapat hidup hanya dengan honor (yang jauh dari pantas) dari tulisan-tulisannya. Namun, jumlah mereka amat kecil. Hanya pengarang yang "punya nama" bisa dikatakan berdikari dengan karyanya. Selebihnya, pengarang hidup dari penghargaan yang begitu kecil dari penerbit. Tragisnya, "pihak lain" itu malah mendulang keuntungan ekonomi lebih besar ketimbang pengarang sebagai pemegang hak cipta.

Kendati hak ekonomi pengarang memiliki permasalahannya sendiri, tantangan terberat justru datang dari penegakan hak moral. Indonesia adalah negara dengan peringkat pembajakan cukup tinggi. Perangkat lunak komputer dan karya digital lain menjadi sasaran pembajakan yang utama. Anehnya, kenapa bangsa ini tidak mampu "membajak" teknologi otomotif, sehingga sampai sekakrang belum merdeka dari "penjajahan" karya otomotif Jepang, Korea Selatan, dan Eropa.

"Budaya" membajak rupanya juga melanda karya tulis. Masyarakat amat gemar memplagiasi karya orang lain. Padahal setiap karya tulis memiliki hak moral yang privat kakrena menunjukkan keunikan pengarangnya. Penegakan hak cipta semakin mendesak. Namun harapan tersebut masih jauh dari kenyataan karena tampaknya pemerintah sendiri tidak terlalu fokus. Sebab penegakan hukum yang lebih besar pun sangat belum memuaskan.

AP Edi Atmaja
Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Hukum,
Universitas Diponegoro

sumber dari Koran Jakarta

Cinta Keluarga ala Presiden SBY








Dibalik hingar bingar dunia perpolitikan Indonesia, ternyata sebuah pelajaran penting bisa kita petik dari presiden kita, SBY. Di tengah kesibukannya mengurusi negeri yang sedang berpesta demokrasi ini, SBY secara implisit mengajarkan pada rakyatnya akan pentingnya mencintai keluarga.

sumber ilustrasi
Siapa yang menyangkal bahwasannya keluarga adalah surga kecil anugerah Tuhan Kuasa di dunia ini. Di dalam keluarga setiap pribadi hebat mulai dibentuk, dibesarkan, dirawat dan dijaga. Di dalam keluarga, setiap cinta dan kasih sayang mulai diperkenalkan dan meresap dalam setiap sanubari anak manusia.

Belakangan ini, ditengah hebohnya kasus korupsi yang melanda politisi dan partai politik, isu kejanggalan surat pemberitahuan pajak (SPT) SBY dan keluarganya bocor ke publik. Melalui sebuah koran Indonesia berbahasa Inggris, dipaparkan bahwa tagihan pajak SBY dan keluarganya tidak masuk akal bila dibandingkan dengan gajinya.

Tanda Seru (!)


Saya ingin bercerita. Kali ini tentang sebuah tanda seru (!) di kampus saya tercinta, Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom), Universitas Padjadjaran. Tanda seru berwarna putih berlatar belakang warna biru, bisa dibilang rutin tersebar diseantero kampus ketika mendekati akhir tahun. Ya, bilangan Oktober-Desember di setiap tahunnya. Tanda seru (!) berposter kecil dan besar ditempel di dinding, kursi hingga tembok-tembok gedung perkuliahan. Untuk saat ini, tanda seru (!) terpajang di gerbang masuk fakultas.

Pasti banyak yang bertanya, tanda apa itu? Anda pun mungkin bertanya-tanya. Tapi saya tentunya tak akan memberikan jawaban akan arti tanda seru (!) itu dalam konteks kampus saya.

Saya ingin bercerita lain dalam persepsi berbeda. Pada 1839-1914 seorang filusuf, ahli logika dan semiotika Amerika Serikat Charles Sanders Pierce mengungkapkan bahwa kita sebagai manusia hanya bisa berfikir dengan sarana tanda, tanpa tanda komunikasi tidak bisa dilakukan. Tanda menjadi penting karena melalui tandalah manusia bertukar persepsi yang merupakan inti komunikasi.

Tanda seru (!) berwarna putih, berlatar belakang biru tadi menjadi media komunikasi antara komunikator (pemberi pesan) dan komunikan (penerima pesan). Pada awalnya, tanda seru (!) berupa tumpukan huruf,yaitu huruf i ditulis di atas huruf o, namun dirasa tak efektif. Tanda ini berasal dari bahasa Latin “io” yang berarti “seruan kegembiraan”. Sekarang tanda seru (!) yang simpel telah menjadi konsumsi kita saat ini.

Kembali ke cerita soal tanda seru (!) di kampus saya. Tanda seru di sana tak selalu diartikan ‘seruan kegembiraan’, malahan diartikan suatu tanda akan suatu hal yang mendebarkan dan penuh kehati-hatian. Sama seperti tanda seru (!) di jalan raya yang menandakan tanda untuk berhati-hati. Di aturan EYD Bahasa Indonesia, tanda seru (!) dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.

Bagi sebagian orang yang memiliki rasa emosi yang kuat, tanda seru (!) tentunya menjadi perhatian serius. Tapi tidak bagi mereka yang cuek atau tidak memiliki rasa emosi itu. Tanda itu hanyalah tanda biasa yang tidak memiliki arti apapun baginya. Untuk itu, agar pesan tanda tersebut bisa sampai pada objek, pemberi tanda seharusnya telah membentuk persepsi kuat bahwa tanda seru (!) memiliki tujuan. Jika tidak tentulah tanda itu menjadi sia-sia.

Tanda seru (!) harus berakhir dengan kegembiraan, sesuai dengan arti sebenarnya ‘seruan kegembiraan’. Kegembiraan tentunya hal yang bisa mendekatkan hubungan antar berbagai pihak dilingkari rasa senang dan bahagia. Semoga kegembiraan itu benar-benar terjadi.

Salam tanda seru (!)

Kamis, 18 Oktober 2012







Oh Jatinangor

Pagi ini sungguh dingin hingga menusuk tulang. Aku menggeliat bangun. Kulitku memberontak. Mengigigil, hingga gigiku bergemetukan.

Aku baru teringat bahwa aku berada di Jatinangor pagi ini. Tak seperti biasa aku kedinginan seperti ini di kota Metropolitan Jakarta. Engkau harus tau. Di Jakarta, setiap pagi bising kendaraan bermotor membangunkan aku. Tapi aku tak peduli. Seperti biasanya aku bangun setelah subuh berlalu.

Jatinangor, memberikan rasa berbeda. Udara dingin, sepi dan kicauan burung menjadi alarm alami yang sukses membangunkanku. Tentunya masih kebablasan. Subuh berlalu, matahari telah menjelang di ufuk timur. Tapi tak lebih dari jam 06.00 pagi kok. Ah, aku mencoba berkilah.

Oh ya, kau harus tau. Sejak awal Januari 2012 aku berpindah sesaat ke Jakarta. Kota penuh kerakusan. Penuh ketidsabaran. Kota yang terus menerima tetasan keringat penduduknya yang kelelahan. Jakarta sudah sesak, ujar seorang kawan. Tapi apa mau dikata, aku harus mencoba. Telah lima bulan aku bersahabat dengan Jakarta. Sekarang sudah bulan ke enam. Tak terasa memang. Panas terik matahari, asap kendaraan bermotor telah menjadi teman akrabku setiap hari. Menemani diri menyelesaikan tugas melaksanakan program magang di media massa.

Tapi, pagi ini aku kembali merindukan Jatinangor. Aku merindukan kesejukannya di pagi hari. Kedinginan tepatnya. Aku masih bersyukur bisa merindukan dan langsung merasakan. Masih teringat jelas di benakku. Lagi. Kau harus tau, di sebuah tanggal di bulan Agustus 2008, aku pertama kali datang ke Jatinangor. Sungguh pilu. Kaget. Betapa tidak, tata kota masih berantakan. Rumput menguning termakan musim kemarau. Tapi sekarang tidak.

Lagi. Kau harus tau. Jatinangor telah berubah. Lambat laun menjadi dewasa. Mengikuti umurku yang semakin tua. Ya, telah hampir empat tahun aku di Jatinangor. Para mahasiswa datang dan pergi. Ada yang lulus. Ada yang DO, ada juga yang baru mengikuti ospek universitas atau fakultas. Perguruan tinggi pun begitu.. Dulu ada Universitas Winaya Mukti (Unwim). Sekarang sudah tutup. Lucu, universitas ini hanya berisi mahasiswa untuk fakultas kehutanan. Entah hutan mana lagi di negeri ini yang dijadikan tempat mereka magang atau praktek kerja. Eh kau harus tau sekarang. Di Jatinangor sudah ada Institut Teknologi Bandung (ITB). Para mahasiswanya mungkin ramai. Ikut berpartisipasi menyesakkan tempat kosan. Bersanding bersama mahasiswa Unpad, Ikopin dan IPDN. Ah, selamat bergabung di dinginnya Jatinangor kawan.

The Panas Dalam pernah bersenandung bahwa Jatinangor sudah ada yang punya. Tapi aku lupa judul lagunya. Jika benar,judulnya kalau gak salah: Oh Jatinangorku  atau Jatinangor oh Jatinangor. Kau harus tau. Hanya kedinginanlah yang memiliki Jatinangor secara abadi. Apitan Gunung Geulis dan Gunung Manglayang membuat Jatinangor tetap dingin di pagi hari. Walaupun pembangunan cepat berkembang. Apartemen mulai berkeliaran. Tempat makan pun semakin marak dipinggir jalan. Tapi ingatlah, kedinginan Jatinangor akan selalu datang di setiap pagi. Siap menusuk tulang. Dan membangunkanmu dari tidur panjang semalaman. Oh Jatinangor, kerinduan setiap orang membuatku harus menikmati masa-masa bersamamu. Memang dulu aku tak peduli. Tapi tidak sekarang. Kuharap kedinginan Jatinangor tetap menemani. Hingga sidang skripsi menjelang. Hingga aku menjadi sarjana di waktu mendatang.

Ditulis dengan tubuh kedinginan. Selimut tipis. Perut masuk angin ditambah rasa malas mengerjakan lampiran laporan job training tv one. Ya, tepatnya hari Sabtu, 2 Juni 2012. 06.55 wib

Layang-Layang


Orangan sawah meliuk-liuk tertiup angin sore. Bergerak, bergoyang mengikuti irama hembusan angin. Begitu juga rumpunan padi. Orangan sawah, rumpunan padi dan angin seperti bersahabat karib. Dekat, menyatu, dan bersinergi dalam irama kicauan burung yang pulang.

Tapi persahabatan itu tidak terlihat pada sebuah layang-layang putih. Berbentuk hampir persegi empat. Tanpa ekor dengan kedua tali terikat di bagian kepala dan ekornya.

Sejak tadi siang, mungkin ketika matahari masih terik, di sebuah tempat di muka bumi ini, seorang anak kecil berbadan tambun berusaha menerbangkan layangannya sendirian. Tak kunjung berhasil. Layangannya tak bergeming. Tak mau bersinergi dengan angin. Tak mau terbang ke angkasa.

Anak kecil itu terus berusaha. Hembusan angin sore kian kencang. Layangannya tetap tak mau terbang. Terangkat sebentar, meliuk tak karuan dan kembali ke tanah. Jatuh.

Anak kecil itu tak mau putus asa. Kembali ia ambil layangannya. Tali benang kembali ia gulung. Diam sesaat, menunggu angin kembali berhembus. Selanjutnya ia pun mengulurkan lagi layangannya. Tetap. Layangannya jatuh, seperti tak sudi meninggalkan daratan.

Entah apa yang salah dengan layangannya. Entah layangannya terlalu ringan. Atau layangannya tak seimbang. Atau memang tiupan angin yang terlalu kencang.

Kesabaran selalu ada batasnya. Begitu pun dengan kesabaran anak itu menerima kegagalan. Ia berfikir. Duduk tercenung. Meraih bekal makanan yang ia bawa. Mengunyah sedikit demi sedikit. Makanannya pun habis.

Anak itu meraih kembali layangannya. Tali benang ia gulung. Kali ini tidak untuk diterbangkan. Ia mengamati seksama layangannya. Di beberapa sisi terlihat robekan-robekan kecil.

"Ini tak masalah," ia berujar dalam hati.

Ia pun berdiri. Ia mengangkat layangannya. Menjatuhkannya dengan terlentang. Tak sampai di tanah, layangannya tergantung. Kali ini berat di sisi sebelah kiri. Tak seimbang.

Angin kembali berhembus kencang.Dengan sigap ia raih layangannya. Ia dekap dengan sempurna. Mencoba untuk menyelamatkan layangannya dari hembusan angin.

Ia pun berkemas. Memasang sendal yang semenjak tadi dilepas. Meraih setangkai permen yang tersisa disaku celananya.Ia pun mengangkat kaki. Pergi meninggalkan tempatnya bermain di pematang sawah tadi.

Ia tak putus asa. Ia tak marah, tapi tersenyum manis, semanis permen tangkai yang terus mencair.

"Layanganku harus seimbang. Biar bisa mengangkasa," gumamnya bahagia.

Stop Hujat Afriani!


Saya bukan kerabat Afriani. Bukan pula pengacaranya. Saya hanya masyarakat Indonesia biasa yang semakin gerah akan pemberitaan kecelakaan maut Tugu Tani.

Tiga hari belakangan ini, perhatian masyarakat Indonesia terpusat pada kecelakaan maut yang menelan 9 korban tewas di Tugu Tani Jakarta. Media massa berbondong-bondong menyoroti persoalan ini. Media cetak dan siaran berlomab-lomba menjadikan peristiwa naas tersebut sebagai sajian utama. Video dan foto kecelakaan tersebut beredar di internet. Beberapa media cetak, baik lokal maupun nasional, menjadikannya sebagai headline.

Perhatian tersebut pun diiringi berbagai komentar masyarakat. Di media sosial berbagai hujatan muncul. Tentunya ditujukan pada pengendara mobil, Afriani cs. Berbagai simpati pun muncul untuk keluarga korban. Ya, korban yang konon katanya tak kesampaian melihat Monumen Nasional (Monas).

Melalui tulisan ini, saya mengajak pembaca semua untuk berfikir jernih dan meniadakan emosi sesaat. Kita tahu, pelaku sudah pasti bersalah. Hukum sudah menjawab itu semua. Tapi, kita sebagai masyarakat Indonesia masih saja berlaku kekanak-kanakan. Emosi yang meledak-ledak dan sesaat, tentunya melupakan esensi peristiwa tersebut.

Begitu besar pelajaran yang diambil dari peristiwa itu. Pertama, saya menilai bangsa kita saat ini dalam kondisi labil. Bisa dikatakan seperti ABG (Ababil Baru Gede). Suka menghujat, emosi labil, dan belum menyentuh akar permasalahan. Kita sebagai bangsa yang dari berbagai suku dan agama ternyata masih belum mampu menyamakan pemikiran mengakar. Maksudnya, pemikiran yang tidak melihat permasalahan di permukaan saja, tetapi pemikiran yang global dan mengakar.

Kedua, bangsa kita saat ini tidak bisa memetik pelajaran dari setiap peristiwa. Terkait permasalahan miras dan narkoba misalkan, permasalahan ini sudah sejak kapan menjadi sorotan pemerintah dan pihak agama. Berbagai upaya untuk melarang peredaran miras hanya menjadi wacana tanpa eksekusi. Jika pun dieksekusi, bangsa kita sibuk dengan perang argumentasi. Perang argumentasi tanpa esensi.

Ketiga, mari kita mendorong pemerintah untuk meningkatkan Perda pelarangan miras menjadi undang-undang. Mengingat hal ini memberikan dampak negatif yang besar sekali bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jika kita sebagai bangsa yang beradab dan menyadari ketiga poin tadi, tentunya hujatan caci maki tak akan keluar dari mulut kita. Pasti Anda akan lelah sendiri jika hanya bisa mengomentari dan mencaci maki, namun permasalahan atau peristiwa maut itu terulang lagi di masa mendatang. Tentunya, jika inti permasalahan tidak dikomentari dan dikritisi.

Saya berfikir, cukup sudah lah penderitaan yang diterima oleh Afriani dan kerabatnya atas musibah itu. Cukup sudahlah rasanya kesedihan yang diterima oleh kerabat korban kecelakaan. Biarkanlah kedua belah pihak menyelesaikan permasalahannya dengan hukum dan Tuhan. Cukup sudahlah media mengeksploitasi peristiwa ini. Masih punya hati nurani kan, tentunya. Sesekali coba bayangkan, bagaimana jika seandainya Anda dalam kondisi tersebut. Bagaimana perasaan Anda jika di berbagai media tercatut nama Anda. Tidak satu pun yang menginginkan tentunya.

Oleh karenanya, mari kita alihkan pikiran dan emosi kita untuk bersama-sama membenahi bangsa ini dari dampak negatif minuman keras dan narkoba. Mari kita bersama-sama mengingatkan pemerintah untuk selalu konsisten mengatur dan menegakkan peraturan yang memberikan rasa nyaman dan aman bagi masyarakat. Semoga hati nurani kita bisa ikut bicara.

Pengamen Jakarta

Bagi Anda yang tinggal di Jakarta tentunya tidak aneh lagi dengan fenomena pengamen jalanan. Tapi, bagi Anda yang sesekali datang ke Jakarta mungkin menganggap ini adalah sebuah fenomena menarik. Tentunya, menarik untuk diamati dan dikomentari.

Siang itu, Senin (22/1), di sebuah angkutan umum - bus Metro Mini 640 jurusan Pasar Minggu-Tanah Abang- seorang bocah laki-laki barusan naik. Dia berumur kira-kira 15 tahun. Berkulit hitam dan berambut pirang. Di lengan tangan kanannya ada gelang. Di telinga terdapat anting logam berwarna silver. Bocah ini memakai kaus lusuh dan celana pendek yang lumayan kotor. Kakinya murni telanjang tanpa alas kaki.

Setelah menemukan posisi berdiri yang pas, ia pun mengucapkan salam dan permisi pada penumpang. Bekas botol susu ultra milk yang berisi pasir ia goncangkan. Suaranya pun keluar. Walaupun urat lehernya sudah keluar, suaranya tetap kalah dengan hiruk pikuk lalu lintas jalanan. Penumpang pun tidak ada yang peduli. Ada yang asik mendengarkan musik dengan headset di telinga. Ada yang tidur. Ada pula yang menatap ke luar jendela dengan sesekali menyeka tetesan keringat.

Selang lima menit, bocah tadi pun selesai dengan tugasnya. Tak lupa pula ia mengucapkan salam dan permohonan maaf jika ia mengganggung para penumpang. Setelah itu, ia mengeluarkan plastik kantong. Ia pun berjalan menyusuri lorong bus. Mengumpul rupiah demi rupiah dari keikhlasan para penumpang. Syukurnya, masih ada yang peduli dan memberi walaupun itu koin seratus atau lima ratus. Sesampai di pintu belakang, ia pun meminta turun pada sopir. Kakinya yang telanjang terlatih sekali meloncat dari bus sekalipun bus belum berhenti sempurna. Panasnya aspal sepertinya tak dirasakannya lagi. Bus pun berjalan dan bocah tadi pun menghilang.

Dari bocah tadi, begitu besar pelajaran yang bisa kita petik. Pelajaran terpenting adalah ucapan permisi dan minta maaf. Ingat, ini adalah kota megapolitan yang sangat matrealistik. Tapi, di tengah kerasnya kehidupan itu, bocah tadi mampu menunjukkan daya tahannya, terlepas itu dia sebenarnya tahan atau tidak.

Mungkin ada di antara Anda yang mengatakan, ucapan permisi dan maaf dari pengamen itu hanyalah penarik hati bagi orang lain. Dalam tulisan ini, saya mengesahkan saja pendapat Anda. Namun, hal terpenting adalah mampukah kita untuk belajar dari sana? Mengingat, kehidupan kita mungkin ada yang lebih baik dibandingkan pengamen jalanan tadi.

Pengamen jalanan adalah fenomena sosial di setiap negara dan kota. Amerika Serikat yang notabennya negara adidaya ternyata masih memiliki pengamen jalanan. Apalagi Jakarta yang merupakan ibukota negara Indonesia dan menjadi pusat perdagangan dan bisnis. Dengan perputaran uang yang sangat cepat, ditambah daya tarik ibukota membuat orang-orang di daerah berlomba-lomba memasuki Jakarta. Tak peduli, apakah mendapatkan pekerjaan atau tidak. Hal terpenting, ke Jakarta dulu deh.

Bocah tadi merupakan satu contoh di antara ratusan ribu atau mungkin jutaan pengamen jalanan di seluruh kota di Indonesia. Lalu timbul pertanyaan dibenak kita, salah siapakah ini?

Sebagai jawaban, pengamen jalanan telah berulang kali mendendangkan mengapa mereka menjadi pengamen. Bisa disimpulkan, dari senandung itu, mereka mengutuk pemerintah yang korup dan mementingkan diri sendiri. Mengutuk pemerintah yang membuat pembangunan di negeri ini tidak merata. Pengangguran ada dimana-mana. Harga bahan makanan semakin mahal. Jangankan untuk membiayai sekolah, untuk membeli sandal dan makan saja mereka sangat kesusahan. Mau tak mau kaki mereka harus direlakan bersentuhan dengan aspal panas sengatan matahari.

Wajar kiranya nasib mereka belum berubah ke arah lebih baik. Dendangan sindiran lagu mereka untuk pejabat pemerintah tidak pernah didengar oleh orang-orang bersangkutan. Pemerintah dan wakil rakyat bisa dibilang tidak pernah menggunakan angkutan umum dalam bertugas. Mobil-mobil mewah telah membatasi mereka untuk mendengarkan dendangan hati para pengamen jalanan. Sungguh sangat disayangkan. Coba seandainya para pejabat mencoba menggunakan angkutan umum, tentunya akan berkurang pengamen di negeri ini.

Tapi, apalah daya dendangan lagu pengamen Jakarta dan di kota-kota lain menguap seiringan panas lalu lintas. Bersyukur bila cucuran keringat berbalas recehanan kepingan rupiah. Semoga itu cukup untuk makanmu sehari-hari dan membeli sandal jepit. Semoga suaramu tak sia-sia di hadapan Tuhan kelak.

Capri 1: Wakil Bersidang, Rakyat Berkemah



Senin (9/1), saya sempat panik. Janji dengan Ruhut Sitompul pukul 11.00 WIB. Jam di dinding ruang redaksi Gatra sudah menunjukkan pukul sembilan. Ruangan yang sejuk dan sepi membuat saya semakin tegang. Tentunya, mengingat hari ini adalah deadline liputan para reporter. Sedangkan saya, belum satu pun mewawancarai narasumber.

Berdasarkan jadwal yang sudah disusun semenjak hari Minggu, saya akan mewawancarai tiga orang narasumber. Ketiganya adalah anggota DPR RI, yaitu, Ruhut Poltak Sitompul dari Partai Demokrat, Nurul Arifin dari Partai Golkar dan Sadarestuwati dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Ruhut dan Nurul akan dimintai komentar terkait putusan MK yang mengabulkan judicial riview terkait pelarangan anggota parpol masuk Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sedangkan Saradestuwati akan berbicara mengenai UU no 1 tahun 2011 terkait Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Selang beberapa saat, saya pun bersyukur sekretariat redaksi, namanya Mas Sapto datang. Ia pun memberikan solusi dengan memberikan surat jalan. Secara kartu pers/pengenal media belum dibuatkan. Terlebih ketika masuk gedung DPR harus diperiksa identitas media asal.

Setelah urusan selesai, saya pun pesan taksi. Secara saya belum mengerti banyak soal Jakarta,jadi k untungnya ditemani Mbak Puput. Taksi pun datang dan saya pun meluncur menuju Jakarta Pusat, dimana para rakyat berkemah, loh. Macet jalanan pun sudah biasa bagi saya. Tapi yang gak biasa, harga taksinya itu. Mahalnya oke bangat. Sekitar 20 menit dalam perjalanan, saya pun sampai di depan gedung DPR.

Untuk masuk gedung DPR, saya terpaksa harus memutar dan lewat pintu belakang. Karena di gerbang depan masih terlihat kemahan terpal para rakyat. Berdasarkan informasi di media online Kompas.com, Tenda itu sudah dibangun sejak pertengahan Desember 2011. Saat itu, ratusan warga Pulau Padang, Kabupaten Meranti, Riau, menduduki depan Gedung DPR untuk meminta pemerintah segera mencabut SK izin pengelolan lahan oleh PT Riau Andalan Pullp and Paper (RAPP) di Pulau Padang.

Mirisnya, sebagian dari mereka melakukan aksi jahit mulut.Melihat kondisi tersebut, saya pribadi pun merasa prihatin. Terlebih mengingat musim hujan dan angin kencang kerap melanda Jakarta di awal tahun Naga Air ini.
***
Akhirnya, sekitar pukul 10.30, di pagi menjelang siang yang panas itu saya pun menginjakkan kaki pertama kali di gedung wakil saya, secara saya rakyat dan mereka wakil rakyat. Kawasan gedung Senayan terlihat rapi dan mentereng. Kesibukan terjadi di setiap sisi gedung tersebut. Terlebih dengan kesibukan wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik yang mau meliput Sidang Paripurna Pembukaan awal tahun 2012.

Suara pidato Marzuki Ali terdengar jelas. Di beberapa sisi terlihat TV Parlemen menyiarkan langsung sidang paripurna. Di pintu masuk terlihat sebuah cafe. Namanya Bengawan Solo.“Oh itu ternyata Bengawan Solo,” pikirku mengingat kemarin Ruhut meminta saya untuk mewawancarainya di Bengawan Solo.

Karena masih memiliki waktu, saya pun langsung masuk ke gedung Nusantara II untuk melihat langsung sidang paripurna. Setelah di periksa dua tahap, saya pun sampai di lantai dua. Lobi khusus wartawan untuk meliput langsung sidang paripurna. Dari lantai dua ini, terlihat jelas bangku-bangku kosong para anggota DPR yang tidak hadir. Terlihat jelas juga dari atas apa saja yang mereka kerjakan. Ada yang memainkan handphone, mengetik di laptop dan membaca majalah. Tapi, saya tidak melihat anggota dewan yang memainkan Ipad. Jadi teringat kasus anggota dewan yang membuka gambar/video porno di tengah sidang berlangsung. “Mungkin mereka kapok dengan musibah temannya dari Partai Berjenggot,” pikir saya.

Ruangan di sidang paripurna cukup besar. Kursi anggota dewan terkelompokkan berdasarkan fraksi atau partai. Diantaranya, ada fraksi Partai Demokrat, PDIP, PKS, PKB, Golkar dan lainnya. Di bagian depan terlihat pimpinan DPR beserta wakilnya. Dari enam kursi tersebut, terlihat di tengah ada Marzuki Ali yang serius membacakan pidato awal tahunnya. Lucunya, ketika pidato hampir di tutup barulah para anggota DPR berinterupsi. Mereka berebutan untuk berbicara. Berebutan untuk di sorot kamera wartawan. Walaupun memang mereka mengajukan pendapat yang aktual akan kondisi bangsa saat ini. Mulai dari kasus pembantai Mesuji, kasus Syiah Sunni di Sampang, dan kasus GKI Taman Yasmin. Masih banyak lagi, mengingat setiap fraksi mendapatkan jatah berbicara satu orang.

Salah seorang wartawan di belakang saya berceletuk, “Tumben pak ketua sekarang bijak.”

Di tengah usulan untuk berbicara, saya mendengar interupsi seorang anggota dewan yang menyoroti permasalahan “Bumi Perkemahan Senayan” dan “cipratan air” renovasi toilet gedung DPR senilai 2 miliar rupiah. Interupsi kali ini mendapat sambutan tepuk tangan para anggota dewan. Saya pribadi bingung, mengapa mereka bertepuk tangan? Mungkin interupsinya berbobot.

Setelah interupsi selesai, giliran pimpinan Marzuki yang menanggapi. Untuk Bumi Perkemahan Senayan, ia meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk segera menyelesaikannya. Sedangkan untuk renovasi toilet, Marzuki pun menjelaskan bahwa renovasi ini berangkat dari keluhan anggota dewan sendiri. Tapi sekarang kok dipertanyakan. “Ini kan kerjaan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR yang berdasarkan keluhan para anggota,” ujarnya menjawab.

Setelah saya lihat sendiri, toilet di gedung DPR masih sangat layak pakai. Masih rapi dan kinclong. Terlebih petugas kebersihan selalu siap mengepel dan membersihkan toilet. Lalu toilet mana yang harus direnovasi? “Mungkin toilet rakyat di “Bumi Perkemahan Senayan” di depan gedung DPR,” ujar saya dalam hati.

Tapi, ada hal yang bisa saya ambil pelajaran. Pertama, para anggota dewan sangat pintar dan sistematis dalam menyampaikan pendapat dalam sidang. Dan kedua, mereka sangat pandai bermain kata dan berargumen. Menurut saya, kedua hal tersebutlah yang harus dimiliki oleh rakyat agar tidak diperbodoh wakilnya di Senayan. Jika tidak, rakyat akan selalu menjadi korban kesadaran-kesadaran palsu omongan wakilnya.

Sekitar pukul 12.00 WIB, ketokan tiga kali palu pimpinan DPR menutup sidang paripurna. Saya pun turun dan menuju lobi, tempat di mana para wartawan mewawancarai anggota DPR terkait berbagai macam isu permasalahan bangsa. Saya hanya mengamati. Selang beberapa menit, saya pun turun menuju gedung Nusantara I untuk bertemu Nurul Arifin di lantai 12. Setelah itu, saya mewawancarai Ruhut Sitompul di Bengawan Solo. 

Catatan Pribadi
Ditulis di Kantor Majalah Gatra, (Selasa (10/1/2011)) sembari menikmati deadline mingguan job training. 

Harapan Baru Dalam Keputusasaan


Tahun lalu, 2011, menyisakan banyak kenangan buruk akan kinerja wakil rakyat dan pemerintah. Berbagai permasalahan masih jauh dari yang diharapkan. Kekerasan merajalela, ketidakadilan semakin meluas, hingga permasalahan korupsi yang selalu dipolitisasi. Semua itu telah terukir di pikiran dan hati bangsa Indonesia. Tidak hanya itu, rakyat pun dibuat putus asa.

Para pemangku pemerintahan dan wakil rakyat terlihat tuli dan buta. Berbagai aksi demonstrasi untuk mengingatkan dan menyuarakan aspirasi rakyat hanyalah pengisi informasi media massa. Suara kegeraman rakyat tak lagi menakutkan, malahan menjadi hiburan ketika rakyat harus berhadapan dengan para aparat keamanaan. Hebatnya lagi, pembakaran diri seorang aktivis mahasiswa tak jua melunakkan hati para penguasa.

Baru-baru ini, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) “bercanda” lagi. Setelah sempat gagal dalam rencana pembangunan gedung baru, DPR pun berencana merenovasi toilet. Angkanya cukup fantastis untuk ukuran toilet, 2 miliar rupiah. Berdasarkan pantauan media massa, toilet di DPR masih cukup bagus dan laik pakai. Hanya permasalahannya terletak pada kurangnya kebersihan.

Melihat kondisi bangsa yang semakin mengkhawatirkan ini, sudah selaiknya DPR untuk tidak meminta yang aneh-aneh. Paham hedonis yang selama ini diperlihatkan oleh wakil rakyat seharusnya perlahan-lahan ditinggalkan. Begitu banyak permasalahan negeri ini yang belum selesai. Kasus pembantaian di Mesuji, Lampung, kekerasan aparat di Bima, hingga perusakan lingkungan alam hayati. Selain itu, kesahjateraan rakyat dan keadilan perlu menjadi perhatian serius DPR dibandingkan menyibukkan diri memperbaiki tempat pembuang kotoran, kecuali jika DPR mau menjadikannya sebagai tempat tidur mereka.

Untuk permasalahan keadilan misalnya, masih banyak rakyat yang ditindas oleh penegak hukum. Anak berusia 15 tahun harus divonis 5 tahun hukuman penjara karena mencuri sendal anggota kepolisian.Sangat berbeda sekali dengan hukuman untuk para koruptor. Jangankan dihukum, diperiksa saja belum, tentunya dengan berbagai alasan. Beberapa kasus korupsi belum menemukan titik temu, malahan semakin dipelintir untuk membebaskan para koruptor dari jeratan hukum. Misalnya, kasus Bank Century, kasus korupsi cek pelawat pemilihan Miranda Goeltom di Bank Indonesia dan kasus Nazaruddin.

Harapan Baru

Semestinya kita bersyukur karena masih ada beberapa pejabat dan wakil rakyat yang masih memiliki hati nurani. Baru-baru ini, Walikota Solo Joko Widodo dan Menteri BUMN Dahlan Ishkan menjadi sorotan rakyat. Menjadi sorotan bukan karena mereka korupsi atau meminta hal aneh seperti DPR. Mereka hanya menunjukkan hati nurani dalam mengemban amanah rakyat.

Untuk Jokowi, rakyat Solo sangat mengapresiasi kinerja masa pemerintahannya yang selalu mengedepankan kepentingan rakyat. Memang atasannya mencapnya sebagai walikota bodoh dan sembrono, tapi tidak dari rakyat. Rakyat sangat memuji usahanya menertibkan kota Solo yang tak melukai hati masyarakatnya. Hebatnya lagi, ia adalah orang pertama yang mempercayai produk mobil nasional Esemka dan digunakan sebagai kendaraan dinasnya.

Lain hal dengan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Ia pun menunjukkan kesehajaannya ditengah hedonisme para pejabat dan wakil rakyat. Jiwa wartawannya yang dekat dengan rakyat semakin terlihat jelas ketika ia menggunakan angkutan kereta api menuju Istana Cikeas untuk rapat bersama Presiden SBY.Kesahajaannya itulah yang membuatnya dicalonkan sebagai ketua umum PSSI dan dicanangkan sebagai wakil presiden di pemilihan 2014 mendatang.

Jokowi dan Menteri Dahlan bisa dikatakan harapan baru untuk masa depan bangsa dan negeri ini. Oleh karenanya, patutlah dukungan tertuju pada pemimpin seperti mereka. Moga-moga dengan besarnya dukungan dari rakyat dapat menyadarkan para penguasa dan wakil rakyat yang selama ini mementingkan diri dan golongan sendiri. Jika mereka tidak berubah, tak jadi masalah. Toh, kita masih mempunyai pemimpin-pemimpin amanah. Semoga harapan baru ini benar-benar bisa terwujud.