Tampilkan postingan dengan label saduran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label saduran. Tampilkan semua postingan

Mengapa Harus Kartini?



Mengapa setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat, menjelang peringatan hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkan buku Surat-Surat Kartini oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan Koninklijk Institut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV).

Tulisan ini bukan untuk menggugat pribadi Kartini. Banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari kehidupan seorang Kartini. Tapi, kita bicara tentang Indonesia, sebuah negara yang majemuk. Maka, sangatlah penting untuk mengajak kita berpikir tentang sejarah Indonesia. Sejarah sangatlah penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno. Al-Quran banyak mengungkapkan betapa pentingnya sejarah, demi menatap dan menata masa depan.

Cinta Hati Si Ibu*

Ada seorang pria muda mencintai seorang pekerja rumah tangga yang menggodanya, “kamu takut?”
Ia meminta, “berikan padaku hari ini kepala milik ibumu di atas sebuah nampan”.

Pria muda itu pergi dan memenggal kepala ibunya, dirobek hati merah ibunya dari payudaranya

Lalu ia lari ke sang kekasih,
Tetapi terpleset saking terburu burunya
Saat hati si ibu jatuh bergelundung di  tanah
Sebuah suara terdengar
Suara itu berkata dengan lembut: “anakku, apakah kau terluka?”**

*Judul dari penyadur
**Karya Sara Ruddick, “Maternal Thinking”, dalam Jurnal Perempuan edisi 58, Maret 2008.

Bung Hatta: Tepat Waktu untuk Bangsa Terlambat

...Bung Hatta adalah tepat waktu untuk sebuah bangsa yang
selalu terlambat ...

Sajak TAUFIK ISMAIL (10 November 2003)

Rindu Pada Stelan Jas Putih dan Pantalon Putih Bung Hatta

I.
Di awal abad 21, pada suatu Subuh pagi aku berjalan kaki di Bukittinggi, Hampir tak ada kabut tercantum di leher Singgalang dan Merapi, yang belum dilangkahi matahari, Lalu lintas kota kecil ini dapat dikatakan masih begitu sunyi, Menurun aku di Janjang Ampek Puluah, melangkah ke Aue Tajungkang, berhenti aku di depan rumah kelahiran Bung Hatta,

Di rumah beratap seng nomor 37 itulah, di awal abad 20, lahir seorang bayi laki-laki yang kelak akan menuliskan alphabet cita-cita bangsa di langit pemikirannya dan merancang peta Negara di atas prahara sejarah manusianya,

Dia tak suka berhutang. Sahabat karibnya, Bung Karno, kepada gergasi-gergasi dunia itu bahkan berteriak, “Masuklah kalian ke neraka dengan uang yang kalian samarkan dengan nama bantuan, yang pada hakekatnya hutang itu”.

Suara lantang 39 tahun yang silam itu terapung di Ngarai Sianok, hanyut di Kali Brantas, menyelam di Laut Banda, melintas di Selat Makassar, hilang di arus Sungai Mahakam, kemudian tersangkut di tenggorokan 200 juta manusia,

Dua ratus juta manusia itu, terbelenggu rantai hutang di tangan dan kaki, di abad kini. Petinggi negeri di lobi kantor Pusat Pegadaian Dunia duduk antri, membawa kaleng kosong bekas cat minta sekedarnya diisi. Setiap mereka pulang, hutang menggelombang, setiap bayi lahir langsung dua puluh juta rupiah berkalung hutang, baru akan lunas dua generasi mendatang.

II.
Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, aku merenung di depan rumah beratap seng di Aue Tajungkang nomor 37 ini, yang di awal abad 20 lalu tempat lahir seorang bayi laki-laki

Aku mengenang negarawan jenius ini dengan rasa penuh hormat karena rangkaian panjang mutiara sifat: tepat waktu, tunai janji, ringkas bicara, lurus jujur, hemat serta bersahaja,

Angku Hatta, adakah garam sifat-sifat ini masuk ke dalam sup kehidupanku? Kucatat dalam puisiku, Angku lebih suka garam dan tak gemar gincu. Tujuh windu sudah berlalu, aku menyusun sebuah senarai perasaan rindu,

Rindu pada sejumlah sifat dan nilai, yang kini kita rasakan hancur bercerai-berai,

Kesatuan sebagai bangsa, rasa bersama sebagai manusia Indonesia, ikatan sejarah dengan pengalaman derita dan suka, inilah kerinduan yang luput dari sekitar kita,

Kita rindu pada penampakan dan isi jiwa bersahaja, lurs yang tabung, waktu yang tepat berdentang, janji yang tunai, kalimat yang ringkas padat, tata hidup yang hemat,

Tiba-tiba kita rindu pada Bung Hatta, pada stelan jas putih dan pantaloon putihnya, symbol perlawanan pada disain hedonisme dunia, tidak sudi berhutang, kesederhanaan yang berkilau gemilang,

Kesederhanaan. Ternyata aku tak bisa hidup bersahaja. Terperangkap dalam krangkeng baja materialisme, boros dan jauh dari hemat, agenda serba bendaku ditentukan oleh merek 1000 produk impor, iklan televise dan gaya hidup imitasi,

Bicara ringkas. Susah benar aku melisankan fikiran secara padat. Agaknya genetika Minang dalam rangkaian kromosomku mendiktekan sifat bicaraku yang berpanjang-panjang. Angk Hatta, bagaimana Angku dapat bicara ringkas dan padat? Teratur dan apik? Aku mengintip Angku pada suatu makan siang di Jalan Diponegoro, yang begitu tertib dan resik,

Tepat waktu. Bung Hatta adalah tepat waktu untuk sebuah bangsa yang selalu terlambat. Dari seribu rapat, sembilan ratus biasanya telat. Kegiatanku yang tepat waktu satu-satunya ialah ketika berbuka puasa.

Kelurusan dan kejujuran. Pertahanan apa yang mesti dibangun di dalam sebuah pribadi supaya orang bisa selalu jujur? Jujur dalam masalah rezeki, jujur kepada isteri, jujur kepada suami, jujur kepada diri
sendiri, jujur kepada orang banyak, yang bernama rakyat? Rakyat yang di tipu terus-menerus itu.

Ketika kita rindu bersangatan kepada sepasang jas putih dan pantaloon putih itu, kita mohonkan kepada Tuhan, semoga nilai-nilai dan sifat-sifat luhur yang telah hancur berantakan, kepada kita utuh dikembalikan.

III.

Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, di depan rumah beratap seng di Aue Tajungkang nomor 37 ini aku menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian aku masuk ke dalamnya, dan di ruang tamu menatap potret dinding aku berdiri,

Tampaklah Bung Hatta di antara rakyat banyak dalam gambar itu. Tiba-tiba Bung Hatta keluar dari gambar sepia itu.

Kemudian Bung Hatta berkata: “Ceritakan Indonesia kini menurut kamu”

Aku tergagap bicara. ^Angku, mangadu ambo kini. Angku, saya mengadu kini. Krisis berlapis-lapis bagaikan tak habis-habis. Krisis ekonomi, politik, penegakan hokum, pendidikan, pengangguran, kemiskinan, keamanan, kekerasan, pertumpahan darah, pemecah-belahan, dan di atas semua itu,
krisis akhlak bangsa,

“Otoritarianisme panjang menyuburkan perilaku materialistic, tamak, serakah, tipu-menipu, konspiratif, mengutamakan keluarga dekat, memenangkan golongan sendiri, dan tingkah laku feodalistik,

Krisis nilai luhur merubah potret wajah bangsa menjadi anarkis, bringas, ganas, tak bersedia kalah, tak segan memfitnah, memaksakan kehendak, pendendam, perusak, pembakar dan pembunuh. Kekerasan, api,
batu, peluru, puing mayat, asap dan bom sampai ke seluruh muka bumi,

Tetapi tentang bom itu, nanti dulu. Sepuluh dua puluh tahun lagi, lihat, akan terungkap apa sebenarnya sandiwara besar skenario dunia yang dipaksakan hari ini. Mentang-mentang.

Aku menarik nafas. Bung Hatta diam. Tak ada senyum di wajahnya Angku Hatta. Harga apa saja di Indonesia naik semua, kecuali satu. Harga nyawa. Nyawa murah dan luar biasa jatuh nilainya. Di setiap demo orang mati. Tahanan polisi gampang mati. Pencuri motor dibakar mati. Anak-anak sekolah belasan tahun dalam tawuran, tanpa rasa salah dengan ringan membunuh temannya lain sekolah. Mahasiswa senior yang garang menggasak, menggampar, menyiksa juniornya sampai mati. Tahun depan pembunuhan di kampus lain di ulang lagi. Dendam dipelihara dan diturunkan”

Sesak nafasku. Bung Hatta diam. Matanya merenung jauh.

Alkohol, nikotin, judi, madat, putau, ganja dan sabu-sabu telah meruyak dan mencengkeram negeri kita, mudah dibeli di tepi jalan, di sekolah, di mana-mana. Indonesia telah menjadi sorga pornografi paling murah di dunia. Dengan uang sepuluh ribu anak SLTP dengan mudah bisa membeli VCD coitus lelaki-perempuan kulit putih 60 menit, 6 posisi dan 6 warna. Anak-anak SD membaca komik cabul dari Jepang. Di televisi peselingkuhan dianjurkan dan diajarkan.”

Gelombang hidup permisif, gaya serba boleh ini melanda penulis-penulis pula.

Penulis-penulis perempuan, muda usia, berlomba mencabul-cabulkan karya, asyik menggarap wilayah selangkang dan sekitarnya dan kompetisi Gerakan Syahwat Merdeka. Betapa tekun mereka melakukan rekonstruksi dan dekonstruksi daftar instruksi posisi syahwat selangkangan abad 21 yang posmo perineum ini.

Dari uap alkohol, asap nikotin dan narkoba, dari bau persetubuhan liar 20 juta keeping VCD biru, dari halaman-halaman komik dan buku cabul menyebar hawa lendir yang mirip aroma bangkai anak tikus terlantar tiga hari di selokan pasar desa ke seluruh negeri.

Aku melihat orang-orang menutup hidung dan jijik karenanya. Jijik. Malu aku memikirkannya”

Jan aku tenan isin sakpore, sakpore, isin buanget dadi wong Indonesia, Lek asane dadi nak Indonesia,

Masiripka mancaji to Indonesia,

Jelema Indonesia? Eraeun urang, eraeun,

Malu ambo, sabana malu jadi urang Indonesia,!(*)

Malu aku jadi orang Indonesia.
(*) Bahasa Jawa, Bali, Bugis, Sunda dan Minangkabau.

Aku berhenti bicara. Bung Hatta masih tetap diam. Matanya merenung sangat jauh. Tiba-tiba bayangan wajahnya menghilang.

IV
Indonesia tersaruk-saruk.
Terpincang-pincang dan sempoyongan,
Dicambuki krisis demi krisis seperti tak habis-habis.
Indonesia kini sedang menangis.
Dari status Negeri Cobaan,
Dia turun derajat menjadi Negeri Azab,
Dan kini sedang bergerak merosot kearah Negeri Kutukan.
Indonesia tak habis-habis menangis.

Kusut, masai,
Nestapa, duka,
Pengap dan gelap.
Dari dalam sumur berlumpur ini,
Dari dasar tubir yang menyesakkan nafas ini
Kami menengadah ke atas,
Masih melihat sepotong langit
Dan mengharapkan cahaya.
Kami tetap berikhtiar,
Terus bekerja keras
Seraya menggumamkan doa.

Tuhan,
Jangan biarkan negeri kami
Yang kini sudah menjadi Negeri Azab,
Bergerak merosot kea rah Negeri Kutukan.

Tuhan,
Mohon,
Jangan ditolak

Do’a kami.
2003

sumber

Hak Cipta dan Kesejahteraan

Para pengarang di negeri minim apresiasi. Maka, tak heran bila sering dijumpai mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Ada sebuah esai sarkastis yang ditulis penyair Sitok Srengenge di sebuah media yang menceritakan pengalamannya ketika hendak membuat kartu tanda penduduk (KTP) di kelurahan. Dia diminta mengisi formulir seperti pekerjaan. Sitok bingung ketika akan mengisinya sebagai penyair, sastrawan, novelis, atau cerpenis.

Tampaknya, pekerjaan penulis belum diakui di negeri ini. Uniknya, dalam kolom profesi malah terdapat ‘paranormal.’ Sastrawan kondang itu berpendapat, di negara terbesar keempat dunia ini para normal lebih dikenal daripada penulis!

Kisah tersebut sekadar menggambarkan bahwa penulis atau pengarang dan turunannya seperti novelis, cerpenis, penyair, kolomnis, dan seterusnya sangat kurang dihargai. Para pengarang juga mesti memperjuangkan sendiri honor yang tak pernah mengikuti inflasi.

Sesungguhnya, menulis atau mengarang adalah pekerjaan yang seharusnya immaterial. Bahasa lugasnya, kalau mau mengarang, jangan memikirkan honor karena hanya akan memperburuk kualitas karya. Begitulah dia mengarang bukan untuk mencari uang. Di sisi lain, ada pengarang yang mencari uang. Dengan kata lain, dia menulis untuk mencari nafkah seperti sebagai novelis.

Gambaran tersebut mau menjelaskan betapa miris nasib kaum pengarang. Mereka kerap tidak dipedulikan penerbit. Padahal penerbit adalah pihak yang bekerja sama secara fair dengan para pengarang. Untuk itu, sudah seharusnya ada "peninjauan kembali" hubungan antara pengarang dan penerbit terutama dalam persentase penghargaan pada penulis.

Dalam penerbitan buku, misalnya, tak jarang pengarang hanya memperoleh tak lebih dari sepuluh persen laba hasil penjualan. Surat kabar acap kali lamban memenuhi kewajiban terhadap pengarang. Selain honor yang diterima kecil, pelunasannya pun terkadang membutuhkan waktu yang sangat lama.

Di sisi lain, tulisan para pengarang juga sering tidak dihargai hak intelektualnya, sehingga banyak yang meniru (memplagiat). Memang dalam era digital sangat meudah membajak tulisan. Banyak yang melakukan peniruan atau mengambil saripati untuk dikembangkan menjadi tulisan baru. Praktik plagiasi bahkan terjadi di kalangan pendidikan di mana untuk memperoleh gelar kerap kali harus meniru hasil karanya orang lain.

"Budaya" membajak amat kuat di masyarakat. Honor yang kecil diperparah dengan perilaku gemar membajak. Jadilah pengarang ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sampai kini perlindungan hukum terhadap hasil karya sastra belum maksimal. Semua pihak harusnya menghargai hak-hak intelektual seseorang.

Hak
Hak cipta merupakan perlindungan hukum yang diberikan kepada pengarang atau pekerja seni atas karya di bidang ilmu pengetahuan, sastra, dan seni. Pemegang hak cipta dan ahli warisnya memiliki hak eksklusif buat (atau memberi izin pihak lain untuk) menggunakan karyanya.

Pemegang hak cipta juga berhak mencegah pihak lain untuk mereproduksi karya dalam segala bentuknya, mengumumkan, menerjemahkan ke bahasa lain, dan/atau mengadaptasi karya seperti dari novel ke skenario untuk sebuah film atau sinema televisi. Namun pelanggaran tetap saja masih sering terjadi.

Istilah copyright berasal dari negara-negara dengan sistem common law. Dalam sistem civil law, di mana Indonesia merupakan penganutnya, hak cipta dikenal dengan istilah author’s right atau droit d’auteur, dereco de autor, Urheberrecht (Graeme B Dinwoodie dalam Dina Widyaputri Kariodimedjo, 2010).

Copyright terdiri dari hak ekonomi dan moral. Hak ekonomi adalah memberi eksklusivitas pencipta untuk memperoleh manfaat finansial dari karyanya. Hak ekonomi meliputi untuk memperbanyak, mendistribusi, menerjemahkan, mengadaptasi, membuat pertunjukan, dan/atau memperagakan suatu karya.

Hak moral terdiri dari paternity right, integrity right, dan privacy right. Hak ekonomi dapat dipindahtangankan ke pihak lain yang dapat juga memindahkannya lagi. Hak ekonomi memiliki masa berlaku. Sementara hak moral tidak dapat dipisahkan dari pengarang dan ahli waris serta berlaku selamanya.

Maka, jelaslah bahwa pengarang sejatinya memiliki hak ekonomi dan moral yang inheren. Namun kenyataannya, kedua hak tersebut belum dimengerti pengarang yang biasa meniru. Budaya membajak di negeri ini sudah kronis, sehingga sangat sulit untuk diberantas.

Hak ekonomi, buat para pengarang, barangkali memang ada. Sebagian pengarang dapat hidup hanya dengan honor (yang jauh dari pantas) dari tulisan-tulisannya. Namun, jumlah mereka amat kecil. Hanya pengarang yang "punya nama" bisa dikatakan berdikari dengan karyanya. Selebihnya, pengarang hidup dari penghargaan yang begitu kecil dari penerbit. Tragisnya, "pihak lain" itu malah mendulang keuntungan ekonomi lebih besar ketimbang pengarang sebagai pemegang hak cipta.

Kendati hak ekonomi pengarang memiliki permasalahannya sendiri, tantangan terberat justru datang dari penegakan hak moral. Indonesia adalah negara dengan peringkat pembajakan cukup tinggi. Perangkat lunak komputer dan karya digital lain menjadi sasaran pembajakan yang utama. Anehnya, kenapa bangsa ini tidak mampu "membajak" teknologi otomotif, sehingga sampai sekakrang belum merdeka dari "penjajahan" karya otomotif Jepang, Korea Selatan, dan Eropa.

"Budaya" membajak rupanya juga melanda karya tulis. Masyarakat amat gemar memplagiasi karya orang lain. Padahal setiap karya tulis memiliki hak moral yang privat kakrena menunjukkan keunikan pengarangnya. Penegakan hak cipta semakin mendesak. Namun harapan tersebut masih jauh dari kenyataan karena tampaknya pemerintah sendiri tidak terlalu fokus. Sebab penegakan hukum yang lebih besar pun sangat belum memuaskan.

AP Edi Atmaja
Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Hukum,
Universitas Diponegoro

sumber dari Koran Jakarta

Amba, Salwa dan Surat



Lasmi Pamuntjak telah sukses menyihir pembaca dengan novel terbarunya: AMBA. Bahasa Lasmi yang lugas dengan deskripisi detail dan mengikat, mampu membawa pembaca ke suasana penuh kecaman di bilangan tahun 1965, di tengah ketegangan dan kekerasan politik setelah Peristiwa G30S di Yogya dan Kediri.

Amba, sosok tokoh utama. Perempuan desa, pemalu di awal dan berfikiran kritis. Anak seorang guru di Kadipura, Jawa Tengah ini menyambung pendidikannya di Fakultas Sastra UGM, Yogya. Sejak ia menginjak dewasa, ibunya hanya ingin Amba segera menikah. Mengikuti tradisi perempuan kampung yang cepat menika. Dengan pola fikir feminis, Amba menolak. Memilih hidup jauh dari keluarga, menimba ilmu dan menerjang tantangan kehidupan.

Ada Salwa Munir. Sosok pemuda santun, seorang instruktur dosen di universitas yang sama dengan Amba. Jatuh cinta pada Amba pada pandangan pertama. Cintanya sempat berbalas, sempat bertunangan, namun kalah dengan praktik cinta dalam kehidupan. Sosok Bhisma Rashad, dokter muda lulusan Universitas Leipzig lebih mampu menunjukkan arti cinta sesungguhnya. Tidak hanya kata romantis, surat, janji masa depan, tapi ia berikan sentuhan cinta pada tubuh Amba yang bergetar dan pasrah ketika mereka bersama.

Menjadi Indonesia

Lebih baik menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan. (Men)dingan (ja)ngan (di)am untuk Indonesia.

Oleh: Mardiyah Chamim, TEMPO Institute


Ada yang memar, kagum banggaku, malu membelenggu,

Ada yang mekar, serupa benalu, tak mau temanimu,

Lekas,

Bangun dari tidur berkepanjangan,
Nyatakan mimpimu,
Cuci muka biar segar,
Rapikan wajahmu,
Masih ada cara menjadi besar,

Mudakan tuamu,

Menjelma dan Menjadi Indonesia.

(diadaptasi dari lirik Menjadi Indonesia-Efek Rumah Kaca)


sumber: Buku Menjadi Indonesia, Surat dari & untuk Pemimpin

Kaca Pun Bernyanyi

In her works, Mika Aoki attempts to make viewers look differently at subjects such as viruses, reproduction and the origins of life. In these works made out of glass, Aoki imitates the micro-kingdoms we glaze over every day. source: http://www.sing-g.net


Five Myths About Social Media

 I like this article, you have to read it to enrich your knowledge about new media and social media.
The ever-expanding universe of social-media technologies - including video-sharing, mobile phones, and networking sites such as Facebook and Twitter that allow individuals to share and connect - is as ubiquitous as it is misunderstood. Apostles hail its power to oust dictators and bring us together; skeptics worry that it homogenizes our thinking and trivializes our relationships. Let's separate fact from fiction.

1. Social media gives power to the people.
More than 5 billion people are connected via mobile phones, 2 billion are on the Internet, and Facebook boasts some 750 million users. With such wide reach, it's easy to assume that communications technologies are great equalizers, increasing the political and economic power of the least well-off.

Certainly, there are examples of new technologies helping the less fortunate. Kenyan farmers and Indian fishermen have used phone applications to bypass corrupt middlemen and get real-time prices for their goods. Anecdotes abound of bloggers documenting human rights abuses, activists communicating via social media during the Arab Spring and indigenous people in Mexico using online newsgroups to promote their struggle for sovereignty. Even the current "Occupy Wall Street" effort was organized via social media.

But to best take advantage of a technology, people need dependable physical infrastructure and human capital - including electricity, education and media literacy. This is true even in the United States. For example, as a faculty member at UCLA, I have worked to develop a digital museum representing objects from the indigenous Zuni people of New Mexico in a way that respects their culture. Our research team found that designing the online system based on standard museum-style descriptions was alienating to the Zuni and that we needed to listen to their ways of describing the world, through storytelling and community rituals. If technologies are designed in isolation from the cultures they seek to connect, people's real voices will not be heard.
              
2. Governments easily monitor and censor social media.
The Internet is much harder to police than capital-intensive media such as television, newspapers and radio. With these older media, intelligence authorities can more easily detect broadcast or printing locations. It's not as simple to monitor a digital environment where anyone with a laptop, bandwidth and the requisite education can create his or her own media network by blogging, tweeting or streaming.

In 2006, my colleague Adam Fish and I were working in Kyrgyzstan, which maintained a Soviet-style approach toward policing media outlets and phone communications. We were surprised to learn that, partly because of the country's need for foreign aid, authorities had agreed to relax Internet regulation in exchange for assistance. We also learned how hard it was to monitor Internet users who were widely dispersed, in some cases using proxy servers and IP-address-scrambling technologies to evade surveillance.

As our research proceeded, we found a small blogosphere emerging in Kyrgyzstan, linking activists and opposition politicians with one another and with sympathizers throughout Central Asia, Russia and the West. The activists understood that the Internet would hardly be sufficient to oppose the regime, but they also found that social media helped them communicate, building ties that fueled at least part of the revolutionary leadership that toppled President Kurmanbek Bakiyev in April 2010.
              
3. Facebook and Twitter enabled the Arab Spring.
Even if social-media networks provide activists with new tools to combat repression, they rarely direct social movements - particularly because they don't necessarily drive people onto the streets. While I was in Egypt this summer, citizens explained why they flocked to protests early this year. Their stories focused on hardship and grievances; admiration of the Tunisian revolution; and the power of "street networks," or the techniques used by mosques, unions and community organizers to rally people in the working class, almost none of whom use social media. (Less than 5 percent of Egypt's population uses Facebook, and less than 1 percent uses Twitter.) Some Egyptian bloggers explained to me that they came to Tahrir Square only after the Mubarak regime hit the "kill switch" on the Internet; they also described unsuccessful protests they tried to organize on Facebook. In addition, activists explained that governments can use social media to monitor dissidents, infiltrate movements and spread propaganda.

That said, social media has indirect effects on mobilizing people, including the ability to organize the networks of key activists and shape news coverage. Egyptian TV journalists said to me that they often source stories from Twitter and circulate videos originally shot on mobile phone and disseminated via video-sharing sites.
              

4. Only young people use social media.
Social media appeals to people of all ages in the Western world, where the most reliable data is available. In the United States, 60 percent of Facebook users are at least 35, and the average age of a Twitter user is now 39 - meaning that many people who were not exposed to the Internet until their 20s are now a big part of its user base. Two-thirds of all American adults use social-networking sites, according to the Pew Research Center, and a 2010 study found that 42 percent of Americans over age 50 are social-media users.

The growth of mobile phone and video-sharing technology mirrors this trend. A recent Pew study found that smartphone users in the United States text and share media across all ages, though youth do so more often.
              
5. Social media creates a global village.
We've long heard that the Internet was supposed to unite people of different cultural and political persuasions. Yet, despite the explosion of online voices, social-media users rarely access opinions that differ from their own, and many social-media sites - with their bifurcated like/dislike, join/don't join ethos - only perpetuate the sound-bite culture of older media.

Not only are our Facebook friends similar to us (we usually connect through mutual friends and shared interests), but researcher Ethan Zuckerman has shown that the sites we visit reaffirm our political and cultural preconceptions. This homogenization reaches the very machinery of social media - its algorithms - which tailor search results or Facebook feeds according to what the systems "think" users will find most interesting.

Bridging disparate cultural and political backgrounds remains a challenge for social media. To learn from differing viewpoints, the technologies and cultures of social media must evolve so that they bring people together rather than keeping us in digital silos.

The Washington Post
              
Ramesh Srinivasan is an assistant professor of information studies and design/media arts at the University of California at Los Angeles.
            

source : http://www.thejakartaglobe.com/opinion/five-myths-about-social-media/469053

Tegas Pada Harga BBM

Gejolak tuntutan perubahan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara memberikan dampak yang luar biasa bagi perekonomian dunia. Gejolak yang berlanjut tersebut mempengaruhi harga minyak dunia. Secara, negara-negara yang bergejolak merupakan negara pengekspor minyak bagi dunia.


Negara Bahrain, Yaman, Aljazair dan Libya memberikan pasokan sekitar empat juta barrel untuk pasar minyak global, begitulah ungkap analis JPMorgan Global Commodities Research yang dikutip dari kantor berita Prancis, AFP.

Selain itu, ada juga ahli yang meramalkan krisis di Timur Tengah dan Afrika Utara ini mengakibatkan harga minyak menyentuh 200 US$ per barrel. Jika ini terjadi, maka aspek perdagangan barang dan jasa akan sangat terganggu.

Apa Kabar Subsidi BBM

Indonesia dahulunya merupakan negara pengekspor minyak dan tergabung dalam OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries), tetapi sekarang tidak lagi. Hal itu disebabkan karena setiap hari Indonesia membutuhkan 1,4 juta barrel per hari. Besar pasak dari pada tiang, itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi produksi dan konsumsi minya nasional. Produksi minyak nasional hanya sekitar 900 barrel per hari. untuk sisanya, sekitar 500 barrel negeri kaya ini harus mengimpor dari negara-negara Arab.

Masyarakat Indonesia pastilah mengerti dan paham bahwa pemerintah sudah pandai mengelola uang negara. Namun, fakta di lapangan tidak seperti itu. Pemerintah sepertinya tidak berani mengambil kebijakan yang berkaitan dengan subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak).

Pada tahun 2011, pemerintah telah menyunat anggaran negara sebesar 136 triliun rupiah untuk subsidi. Sembilan pulah enam triliun digunakan untuk mensubsidi harga BBM di negeri ini. Padahal sudah jelas, hampir 80 % subsidi BBM itu digunakan oleh golongan menengah ke atas. Apakah ini yang namanya membantu rakyat miskin ?

Harga BBM Harus Naik

Dengan tren rezim SBY yang mengedepankan citra baik di depan rakyatnya, membuat Pemerintah Kabinet Bersatu jilid II ini ragu-ragu menaikkan BBM. Padahal jika BBM tidak dinaikkan, maka anggaran untuk subsidi BBM semakin membengkak. Pada akhirnya, pengelolaan APBN 2011 akan terganggu.

Apa yang sebenarnya ditakutkan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM. Apakah pemerintah takut dipanggil sama anggota DPR, toh mereka saja sibuk dengan pertarungan politiknya. Atau jangan-jangan pemerintah takut dimaki dan dihujat sama rakyat sendiri. Entahlah.

Dibilang tidak berani, pemerintahan SBY sudah melakukan pengotak-atikan harga BBM. Pada rentang tahun 2005-2009 saja, pemerintah sudah 3 kali menaikkan dan 3 kali menurunkan harga.

Pada 2005, harga BBM menyentuh dasar 1800 rupiah per liter. Selanjutnya, pada 2008-2009 harga itu meningkat hingga 6000 rupiah per liter. Dan sekarang turun pada posisi 4500 rupaih per liter. Ini menunjukkan bahwa pemerintah sebenarnya sanggup untuk menaikkan sekitar 500 -1000 per liter BBM di saat krisis minyak ini.

Hal terpenting adalah pemerintah jangan lagi membuat rakyat tenang dan damai dengan subsidi BBM. Jelaskan pada rakyat bahwa harga BBM itu memang tinggi di perdagangan internasional. Terlebih produksi minyak nasional yang tak kunjung bisa mencukupi.

Indonesia dahulunya memang negara pengekspor minyak. Namun, sekarang tidak lagi. Itu disebabkan semakin menurunnya tingkat produksi minyak nasional. Pada tahun 2010 saja, pencapaian produksi minyak bumi belum memenuhi target APBN 2010. Kehilangan kesempatan produksi ini disebabkan adanya “unplanned shutdwon (gangguan tidak bisa produksi oleh sesuatu yang tidak direncanakan).

Kehilangan produksi terbesar terjadi pada PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) pada bulan Juli dengan menutup 1.010 sumur. Di samping itu juga, pecahnya pipa gas membuat kesempatan produksi sekitar 2 juta barrel lenyap.

Analis perminyakan ITB Rudi Rubiandini menyatakan bahwa “unplanned shutdown” ini disebababkan oleh peralatan yang sudah tua, sistem pemeliharaan dan pengawasan yang kurang proaktif, ditambah pula telatnya kesigapan dalam menangani kecelakaan atau kerewelan peralatan di lapangan.

Energi alternatif 

Berbicara tentang energi, tidak terbatas pada bahan bakar minyak. Masih banyak lagi energi alternatif yang bisa digunakan untuk melindungi negeri ini dari krisis energi. Energi tersebut bisa dari batu bara, gas alam, energi air yang diubah menjadi energi listrik dan sebagainya. Langkah-langkah kecil untuk mengubah pola pikir masyarakat yang masih kuat bergantung pada sumber energi minyak harus dilakukan pemerintah.

Pada akhirnya nanti, negara ini akan memiliki pasokan energi baru dan terhindar dari ketergantungan akan negara-negara pengeskpor minyak. Beruntung lagi jika dampak krisis minyak tidak berimbas besar pada perekonomian nasional. Semoga harapan itu bisa terwujud.

Disarikan dari Ecconomic challenges dan Kolom di Metro TV, Liputan 6 dan sumber lainnya