Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Amba, Salwa dan Surat



Lasmi Pamuntjak telah sukses menyihir pembaca dengan novel terbarunya: AMBA. Bahasa Lasmi yang lugas dengan deskripisi detail dan mengikat, mampu membawa pembaca ke suasana penuh kecaman di bilangan tahun 1965, di tengah ketegangan dan kekerasan politik setelah Peristiwa G30S di Yogya dan Kediri.

Amba, sosok tokoh utama. Perempuan desa, pemalu di awal dan berfikiran kritis. Anak seorang guru di Kadipura, Jawa Tengah ini menyambung pendidikannya di Fakultas Sastra UGM, Yogya. Sejak ia menginjak dewasa, ibunya hanya ingin Amba segera menikah. Mengikuti tradisi perempuan kampung yang cepat menika. Dengan pola fikir feminis, Amba menolak. Memilih hidup jauh dari keluarga, menimba ilmu dan menerjang tantangan kehidupan.

Ada Salwa Munir. Sosok pemuda santun, seorang instruktur dosen di universitas yang sama dengan Amba. Jatuh cinta pada Amba pada pandangan pertama. Cintanya sempat berbalas, sempat bertunangan, namun kalah dengan praktik cinta dalam kehidupan. Sosok Bhisma Rashad, dokter muda lulusan Universitas Leipzig lebih mampu menunjukkan arti cinta sesungguhnya. Tidak hanya kata romantis, surat, janji masa depan, tapi ia berikan sentuhan cinta pada tubuh Amba yang bergetar dan pasrah ketika mereka bersama.

Chapal Ibhanan

Cerpen

Seorang pria paruh baya terlihat memperbaiki kain selimut gendongan berwarna putih ke lehernya. Dalam kain gendongan itu seorang bayi perempuan terlelap tidur. Setelah kain tergantung pas dilehernya, kedua tangannya kembali pada kedua pegangan becak.

Pria tukang becak ini berumur 38 tahun dan ia bernama Chapal. Ia adalah warga sebuah kota di negara bagian Rajashtan,India.

“Kemana ibu anak itu Pak?” tanya seorang laki-laki paruh baya yang sedari tadi menumpangi becak Chapal.

“Ibu anak perempuan ini telah tiada. Istriku meninggal ketika melahirkan anak kami tercinta ini,” jawab Chapal lirih.

Supernova, Partikel: Selalu Menarik

Saya akui, dari keempat seri buku Dee: Supernova, Partikel memiliki daya tarik yang luar biasa bagi saya. Cerita penuh konflik batin, keluarga, dan sosial menjadi bumbu hebat dalam tulisan bernas Dee. Cerita Zarah dalam Partikel menjadi lebih hebat lagi ketika Goenawan Mohammad mengangkatnya dalam tulisan Catatan Pinggir-Tempo. GM mengangkat ide Partikel menjadi cerita tentang bagaimana seorang anak kecil (Zarah) menunjukkan apa yang ia percayai dan bagaimana mereka percaya. Untuk itu, sebagai bentuk rasa kagum saya pada kedua karya di atas, saya abadikan tulisan tentang Partikel di Caping GM di blog saya.


Zarah

Senin, 15 Oktober 2012

Anak-anak, dengan cara apa mereka percaya?

Dalam novel Dee, Partikel, kita bertemu dengan Zarah. Anak perempuan ini dididik dan dibentuk ayahnya, Firas, dosen Institut Pertanian Bogor yang tak hendak mengirimnya ke sekolah. Firas sendiri kemudian berhenti pergi ke kampus. Ia hanya jadi guru anaknya. Di bawah asuhan bapak yang kelak hilang itu, Zarah akan bertemu dan memasuki pengetahuan dan pengalaman yang tak lazim.

Firas seorang peneliti (dan sahabat) tumbuh-tumbuhan yang meletakkan fungi di status istimewa. Baginya fungi bukan saja membuktikan diri sanggup bertahan hidup melampaui dua kiamat ketika bumi ditabrak asteroid. Firas juga yakin, fungi adalah makhluk dengan kecerdasan super, melampaui manusia.


Dari sini kemudian ia berangsur-angsur membawa Zarah ke pengetahuan tentang hal-ihwal yang "gaib", tapi sebenarnya gaib hanya bagi yang tak mau tahu. Ayahnya mengajaknya ke Bukit Jambul yang misterius.


Setelah pengalaman di bukit yang dijauhi orang itu Zarah pun tahu, ayahnya mencatat pertemuannya dengan makhluk yang tak datang dari bumi, alien, meskipun merahasiakannya sampai akhir.


Pada suatu hari sang ayah menghilang. Sejak itu Zarah—yang mengagumi ayahnya dan mengiaskannya sebagai "dewa"—mencarinya. Ia masuki pengalaman dari satu benua ke benua lain, sampai novel yang mengasyikkan ini berhenti—atau berhenti sebentar, sebab fiksi ini (delapan tahun setelah episode Petir terbit pada 2004) tampaknya masih akan berlanjut.


Zarah adalah sebuah pencarian panjang. Ia sejumlah pertanyaan hidup yang mengusik jawaban-jawaban yang mati. Di dunia yang dibentuk jawaban seperti itu, ia seorang asing yang ditampik.


Syahdan, ketika ia akhirnya masuk sekolah—setelah ayahnya tak ada lagi—Zarah mulai merasakan posisinya yang asing itu. Ia tak bisa meletakkan keyakinannya di antara keyakinan yang telah dikukuhkan masyarakat.


Pertanyaan: "Kamu ibadah di mana dong, Zarah?"

Jawab: "Di kebun."
Pertanyaan: "Kamu menyembah apa?"
Jawab: "Jamur."

Dan Zarah dikeluarkan dari kelas ketika ia mengajukan satu teori yang ia dengar dari ayahnya yang berbeda dengan cerita agama tentang kejadian manusia. Bagi gurunya, Bu Aminah, "tidak ada versi lain" selain kisah tentang Adam dan Hawa.


Ketika Zarah mengatakan versi agama belum tentu benar, Bu Aminah meminta murid yang ganjil itu diskors. Guru itu menganggapnya "melakukan penghinaan atas dirinya, atas Alquran, dan atas Islam".


Zarah mencoba memprotes. "Kenapa Bu Aminah harus tersinggung dengan cerita saya? Kalau beliau nggak percaya dengan cerita saya, kan, saya juga nggak marah."


Tapi anak itu harus menghadapi sebuah garis lurus yang tunggal. Kakeknya, yang ia panggil Abah, seorang alim dan pengusaha terpandang di dusunnya, menegaskan garis lurus itu dengan amarah yang keras, begitu ia dengar bahwa cucunya menimbulkan heboh di sekolah.


"Dengar, Zarah," katanya. "Kita ini keluarga Islam. Sampai mati, kita semua tetap Islam. Mulai hari ini cuma boleh ada satu kebenaran yang kamu bawa ke sekolah. Dan ke mana pun kamu pergi nanti, kebenaran itu tidak berubah. Jangan berani-berani kamu pertanyakan. Mengerti?"


Zarah akhirnya tunduk. Ia bersedia dikirim ke sebuah pesantren "kilat" untuk memperbaiki imannya. Selama sebulan itu ia mengiyakan semua yang dikatakan para pembimbingnya. Ia tak hendak beradu argumen.

Orang-orang pun menyangka ia telah berubah jadi manusia baru. Tapi justru pada saat itulah Zarah sepenuhnya membangkang. Anak ini pulang dari pesantren dengan "kesadaran baru". Tapi sebenarnya ia mengikuti sikap ayahnya. "Aku adalah Firas berikutnya," katanya. "Inilah pemberontakan pertamaku."

Dengan cara apa anak-anak percaya?


Saya punya cerita lain, kali ini bukan fiktif: cerita seorang penyair yang "terkutuk". Arthur Rimbaud, sastrawan Prancis akhir abad ke-19 yang dianggap jadi pelopor Surealisme pada usia muda, menulis dengan rasa tak suka yang sengit tentang kepercayaan Kristiani—ajaran yang ditanamkan kepadanya di waktu kecil oleh ibunya. Sajak "Les pauvres à l’église" (Orang-orang Miskin di Gereja) menyebut "iman yang bodoh dan mengemis-ngemis". Sajaknya yang lain, "Soleil et chair" (Matahari dan Daging), meneriakkan "jangan ada tuhan-tuhan lagi".


Rimbaud, yang lahir pada 1854 dan berhenti menulis pada usia 20, berbeda dengan Zarah dalam novel Partikel.


Rimbaud—yang kemudian disebut sebagai salah satu dari "penyair-penyair terkutuk", les poètes maudits—menyerukan keharusan "modern sepenuhnya"; dalam "Soleil et chair" ia tegaskan bahwa "Manusia" adalah Raja dan Tuhan. Sebaliknya Zarah dididik ayahnya agar mengerti bahwa manusia cuma makhluk di tengah fungi, dan tak lebih hebat. Ada perspektif pascamodern di sini.


Tapi baik bagi Zarah maupun Rimbaud, Tuhan didatangkan ke dalam hidup dengan kaki yang menginjak. Dalam sajak "Les poètes de sept ans" (Para Penyair di Usia Tujuh Tahun) Rimbaud dengan menyentuh dan menusuk menggambarkan seorang anak yang tiap hari Minggu diharuskan ibunya membaca Injil. Anak itu tak membantah. Tapi ia takut akan hari-hari Minggu itu, terutama di bulan Desember yang pucat, ketika ia harus duduk menghadapi meja mahagoni yang berat dan membaca Alkitab.


Tiap malam di kamarnya yang kecil

mimpi-mimpi menindasnya
Ia tak mencintai Tuhan; ia mencintai manusia.
Kita tahu ia anak yang tak bahagia. Tapi dengan cara apa ia percaya?

Saya bayangkan anak-anak seperti arus hulu yang tercurah, yang tak menentukan hilirnya sendiri. Kemudian dunia yang dihuni orang-orang tua menampungnya dengan waswas. Ada yang jadi sungai deras, ada yang tersekat di waduk persegi. Di bawah itu, Tuhan terasa sebagai Tuan yang membuatnya cuma terdiam.


Goenawan Mohamad



sumber

Insomnia Pagi


Dingin udara pagi telah sejak subuh merasuk hidung. Hembusan nafas berasap berulang kali kuhembuskan. Satu tarikan nafas di hidung, satu hembusan asap segar keluar dari mulutku.

Biasanya hawa dingin merupakan waktu yang tepat untuk menarik selimut. Bergumul, memejamkan mata, dan terlelap tidur. Selimut kain ditambah selimut hawa dingin adalah perpaduan sempurna untuk mengantarkanku ke alam mimpi pagi hari.

Tapi tidak untuk saat ini dan beberapa hari lalu. Udara dingin, embun dan kesunyian pagi tak lagi bersahabat denganku. Ia tak bisa lagi menemaniku masuk ke alam mimpi pagi hari. Bukan mereka sumber masalahnya, tapi aku.

Aku menderita insomnia. Insomnia pagi tepatnya. Bukan aku, tapi mengarah pada kondisi memprihatinkan.

Biasanya, insomnia terjadi di malam hari. Lain dengan apa yang aku alami. Aku mengalami insomnia di pagi hari. Ya, kondisi di mana aku sulit tidur di pagi hari.

Aku prihatin pada diriku jika tak bisa lagi menikmati pagi. Aku tak bisa lagi merasakan nikmatnya perpaduan selimut kain dan hawa dingin. Aku tak bisa lagi menikmati mimpi pagi hari yang seringkali indah. Aku prihatin saja jika ini terus berlarut-larut terjadi.

“Oh insomnia pagi, mengapa kau harus datang padaku di saat aku menginginkan mimpi pagi hari?” hatiku mencoba bertelepati dengan insomnia.

Tak ada jawaban. Diam. Suasana sunyi. Hawa dingin dan embun pagi sudah sejak tadi menunggu. Menunggu aku terlelap hingga ke alam mimpi.

Insomnia pagi, enyahlah pagi ini. Cukup pagi ini. Esok kau mau datang terserah lah. Sekali saja ku mohon. Eh, tapi kau baru merasuki beberapa hari yang lalu ya. Kenapa harus aku yang memohon padamu untuk pergi?

“Perlukah aku menikmati keberadaanmu? Meninggalkan kenikmatan pagi bersama hawa dingin dan embun. Apa yang bisa kunikmati darimu? Beri tahu aku!”

Diam. Terus saja diam. Hawa dingin mulai terasa berkurang.

Tiba-tiba insomnia pagi berbisik. “Matahari di ufuk timur sudah bersinar indah. Burung-burung terbang riang. Angin segar berhembus. Senyum aktivitas manusia merekah. Semangat hidup tumbuh kokoh. Berharap rezeki dari Yang Kuasa. Itulah keindahanku wahai sahabatku.”

Lalu, aku terdiam. Merenung, meresepai makna terpendam. Tiba-tiba....

... Insomnia berujar “Maukah kau berteman denganku?”

Ditulis pada 25 Juli 2012, Hari keempat bulan Ramadan dengan kondisi sulit untuk tidur di pagi hari.

Nanti Sajalah

Yah, aku terpana lagi. Mata nanar. Perih. Menatap layar monitor komputer yang terlalu terang. Diam. Senyap mulai merasuki.

Kamar ini terasa sunyi. Gelap. Cahaya-cahaya lampu diteras mencoba masuk melalui celah-celah jendela. Tak ada suara lain. Hanya pekikan speaker yang melantunkan lagu. Tak banyak lagu. Hanya sekitar 500 judul lagu yang telah aku acak.

Mata ini semakin nanar. Mempelototi huruf-huruf di papan keyboard. Samar-samar, tapi cukup jelas.
Tanganku lincah bermain menuliskan setiap kata-kata yang ada dibenakku. Terkadang terhenti. Menekan tombol delete. Beberapa kata salah.

Mataku semakin nanar melihat layar komputer. Kali ini tak pedih. Tapi menatap lekat, dekat, dan bersatu dengan cahaya yang menerpa mataku. Bingung. Aku terhenti mau mengetik apalagi.

Kepala ini terasa penuh. Acak. Berserakan. Laiknya banyak folder terinfeksi virus trojan yang mematikan file-file komputer. Memang tak sampai merusak. Hanya saja acak dan berserakan.

Aku tetap terdiam. Mengusap mata, muka dan kepala. Mencoba rileks. Berharap ada ide lagi untuk aku tulis. Ingin jejari tanganku bermain lagi di papan keyboard.

Come on, i need inspirations. I need somothing through in my mind. Help me. Help me...

Tak jelas. Semakin buram. Kacau. Aku belum bisa fokus.

 “Ah, nanti kau bisa,” hatiku membisikkan.

“Nanti? Kapan? Selalu cari alasan. Tak pernah mau mewujudkan.,” sisi hatiku lain yang membisikkan.

Diam. Sunyi.

Ah biarkan hatiku bergejolak. Aku mau rileks. Dengarkan dendangan musik yang terus bermain ditelinga ini.
Aku beranjak. Memencet sakelar lampu di pojok sana. Kamarku kembali terang benderang. Tapi tetap saja, lagu-lagu ini akan terus berputar, mendendangkan suara-suara merdu. Lalu mau kapan aku memainkan lentik jari tanganku di papan keyboard ini.

Entahlah.

Eh, nanti sajalah.


Malangnya Hambalang*

Mereka lagi berbicara soal Hambalang
Mereka lagi berdiskusi soal korupsi Hambalang
Mereka lagi berdebat ambruknya Hambalang

Mereka lagi saling serang wacana soal Hambalang
Mereka lagi mencari siapa pemenang
Entah pemenang mana yang diperjuangkan

Hambalang malang telah membuktikan ketidakmatangan pemerintah
Hambalang malang telah menunjukkan ketidakseriusan pemerintah
Hambalang malang telah membongkar kebobrokan pemerintah

Ah, mereka akan terus berwacana dan berencana
Menggunakan berbagai cara
Membungkam setiap kemungkinan yang ada

Negeri ini terlalu banyak wacana dan rencana
Entah sampai kapan
Sekarang mari nikmati dulu tayangan Hambalang yang malang.

*Hambalang merupakan proyek pusat sekolah olahraga di Bukit Hambalang, Bogor. Ambruk pada 25 Mei 2012

Perkenalkan, Namaku Ide

Berpuluh-puluh buku telah aku baca. Ludahku telah kering untuk membantu membalikkan ratusan hingga ribuan halaman buku. Berbagai pengetahuan telah aku telan, aku pahami, dan terkadang aku rekam kuat diingatannku. Tapi aku masib belum puas.

Siapa sangka ternyata kepuasan itu relatif. Ada orang yang baru membaca satu buku lantas puas. Tapi aku tidak. Aku tak puas jika hanya membaca. Aku tak puas jika hanya tahu. Aku lebih tak puas jika aku hanya membaca terus lupa. Aku puas jika aku mempunyai ide. Ide yang bisa aku tulis dan dibaca oleh mereka-mereka yang tak puas.

Pernah satu ketika aku berjalan di jalanan raya. Melihat dan mendengar deru bising kendaraan. Matahari terik, panas membakar kulit.

Pernah pula di suatu ketika aku duduk termenung di depan rak-rak buku di sebuah perpustakaan. Rak-rak itu bertingkat-tingkat. Di setiap tingkat tertata rapi sesuai jenis dan klasifikasinya. Ada buku-buku yang terus menua termakan zaman. Rapuh, robek, dan berakhir di tong sampah. Tapi ada juga yang diawetkan dalam lemari kaca.

Pernah pula di satu ketika aku bergelantungan di bus kota. Teriakan keras kenek bus menggaet penumpang. Sesekali berhenti. Menaikkan dan menurunkan penumpang. Ada yang menggerutu kesal. Ada pula yang tertidur pulas di pojok jendela bus kota. Ada yang bergelantungan hingga tangannya keras beradu besi karatan. Ada pula yang risih ketika para pengamen dan anak jalanan menyodorkan tangan meminta uluran uang.

Pernah lagi di suatu ketika aku membaca habis sebuah surat kabar. Informasi berseliweran. Foto-foto terpajang dengan seni tata letak. Tulisan-tulisan berita memusingkan mata. Belum substansi informasi yang terkadang tak tepat sasaran. Ada berita korupsi. Ada berita narkoba. Ada pula berita pak presiden berikan grasi ratu mariyuana asal negeri kangguru. Ada berita lumpur yang tak usai-usai. Semuanya berpacu. Membaca yang tak perlu. Begitupun aku.

Pernah di satu ketika aku merasakan....... Ah, aku terlalu banyak berbicara ‘ketika’. ‘Ketika’ yang tak bisa memuaskan hasrat jiwa. Ingat, aku butuh kepuasan. Kepuasan untuk memiliki ide. Iya, aku tahu bahwa kepuasan itu relatif. Aku ingin menikmati kerelatifan kepuasan itu. Itu semua berawal dari ide.

Telah banyak aku melihat, mendengar dan merasakan. Belum ada sesuatu ide yang bisa aku munculkan. Ini berdampak pada kepuasaanku.

Aku mohon, ide datanglah kau saat ini. Aku ingin berkenalan denganmu. Aku ingin berpuas diri menikmatimu. Biar kepuasan ini bisa aku rasakan. Aku tularkan.  

Datanglah ide, kenalkan: ini aku. Aku yang mencarimu di setiap sisi. Aku telah mencarimu dimana-mana. Aku telah ke jalan raya. Aku telah ke perpustakaan penuh rak buku. Aku telah bergelantungan di bus kota. Aku pun telah membaca habis surat kabar hari ini. Tapi mengapa kau tak sudi berkenalan denganku wahai ide. Apa salahku. Apakah kau belum puas melihat perjuanganku untuk menemuimu. Sesulit itukah bisa mengenalmu?

Sungguh aku putus asa wahai ide. Aku tak tahu apalagi yang harus kulakukan. Jika kau tak cukup waktu untuk berkenalan denganku. Izinkan aku merasakan keberadaanmu. Biarkan dekapan eratmu membuatku mencapai kepuasan. Kepuasan yang membawaku pada senyum dan rasa bahagia.

Aku akan merenung lagi.

Aku akan mencoba menjawab. Kini aku tahu keberadaanmu wahai ide. Aku tahu. Kali ini kau tak bisa bersembunyi lagi. Sekarang aku bisa tersenyum. Kepuasanku mendapatkan dan menyalurkanmu segera terwujud.

Sekarang dengarkan wahai ide. Kau pasti ada dimana-mana. Kau ada di bus kota, kau ada di perpustakaan penuh rak buku, kau ada di jalanan dan kau ada di surat kabar. Sepertinya kau tidak pernah bersembunyi wahai ide. Kau terbuka. Mau berkenalan dengan siapa pun. Hanya saja aku yang lupa. Aku dan mereka lupa bahwa kau ada dalam pertanyaanku selama ini.

“Perkenalkan, ini aku. Kau pasti ide,” ujarku mengulurkan segala sesuatu.

“Iya. Aku Ide Cemerlang tepatnya. Terima kasih telah berkenalan denganku. Jaga aku agar tetap berkenalan denganmu,” ide menjawab sekenanya.

“Pasti akan. Karena aku sumber keberadaannmu,” jawabku sambil tersenyum.

Sekarang aku telah puas. Bagaimana dengan kau? Apakah sudah puas. Jika belum carilah idemu, berkenalanlah dan nikmati setiap kebersamaanmu mencapi kepuasaan yang relatif.

Jatinangor, 2012

Korban Senjata

Ia tak tahu mau berbuat apalagi. Semua perintah dari atasan telah ia selesaikan dengan baik. Semua penyergapan tindak pidana kriminalitas telah ia selesaikan pula. Tapi semua itu seolah tak berarti jika ia berhadapan dengan komandannya. Ia merasa ada yang tidak beres.

“Fret, sini kau,” ujar seorang pria di dalam ruangan.

“Siap Pak,” ujar Fret sembari bangkit dari perenungan panjang di kursi yang sejak dua jam lalu ia duduki. Hati Fret berharap tak ada kesalahan yang ia perbuat di mata komandannya.

Fret masih mengingat jelas, dua tahun lalu ketika ia masih latihan di lapangan hijau di sebuah markas kepolisian di sebuah negara yang mengaku demokrasi. Dengan semangat tinggi, Fret memulai aktivitas pertamanya sebagai polisi di sebuah kantor kepolisian, tepat waktu itu Jumat pagi, 5 Mei 2010. Berbaris rapi, bernyanyi, hormat dan mendengar perintah komandan.

Sekarang, tepat dua tahun ia berkarir di dunia aparat penegak hukum. Pangkatnya mulai menanjak naik. Ia diperintahkan memimpin satu tim kecil kepolisian. Tak banyak. Enam orang. Bertujuh jika ditambah Fret. Bersama tim kecilnya itu Fret berhasil membekuk jaringan narkoba di Jakarta. Ketangkasan individu serta kekompakan tim membuat Fret semakin dikenal dikalangan kepolisian.

“Kenapa kau tangkap aparat keamanan dari intansi lain,” ujar komandanya keras.

“Mereka bersalah,” ujar Fret singkat.

“Saya tahu. Tak semua orang bersalah kau tangkap. Lihat dulu siapa yang kan kau tangkap. Jika masyarakat sipil boleh-boleh saja kau tangkap. Tapii.....,” jelas komandannya panjang.

“Ini instansi tentara Fret. Bisa berbahaya jika mereka balas dendam,” tambah komandannya.

“Saya tak mengerti,” Fret pun berujar singkat. Di dalam hatinya bertanya-tanya, mengapa harus membedakan sipil dan aparat? Huh. Jika mereka bersalah, tak pandang bulu harus ditangkap berontak hati nuraninya.

“Kau harus lepaskan mereka,” tegas komandannya.

“Apa? Lepaskan? Tidak,” bantah Fret.

Masih teringat jelas dibenak Fret akan kejadian dua hari lalu. Selama 2 minggu, Fret bersama timnya mengintai sebuah rumah mungil dibantaran sungai Ciliwung Jakarta. Dilihat selintas tak ada yang istimewa dengan rumah itu. Tapi setiap hari para aparat berpakaian hijau hilir mudik keluar masuk rumah mungil itu. Mobil-mobil mewah terparkir, tetap ramai 24 jam.

Berdasarkan informasi warga, rumah mungil itu adalah tempat transaksi narkoba. “Pemainnya aparat keamanaan,” ujar seorang warga tanpa menjelaskan spesifik aparat yang mana. Informasi warga itu pun diperkuat dengan pengamaan tim Fret selama 2 minggu. Hasilnya: positif tempat transaksi narkoba.

Tanpa babibu, Fret dan tim menggrebek rumah mungil tanpa dosa itu Senin malam. Penggrebekan itu berhasil menangkap 3 orang aparat berpakaian hijau loreng. Ketiga tersangka ini pun dikurung beserta alat bukti 5 kg ganja kering dan 15 butir pil ekstasi.

“Fret,” gertak komandannya sekali lagi.

“Siap komandan.”

“Lepaskan mereka yang kau tangkap. Ini perintah atasanmu Fret.”

“Siap tidak, sekalipun nyawa saya sebagai taruhan.”

“Sekali lagi Fret. Lepaskan mereka! Jika tidak instansi mereka akan menyerang kita.”

“Siap tidak komandan.”

Fret tetap bergeming dengan pendiriannya.

“Door..”

Selonsong peluru kecil mendarat di kening Fret. Senyum puas merebak di wajah komandannya. Terlihat asap mengepul di moncong senjata apa ditangannya.

“Brukk.” Fret pun ambruk. Darah mengucur di keningnya. Setelah terjatuh ia kejang sesaat. Selanjutnya diam tak bergerak. Fret bergeming. Tewas. Bergeming bersama keyakinannya memihak pada kebenaran. Walaupun harus meregang nyawa, Fret dengan tegas menolak perintah atasannya bermental pengecut. Pengecut. Pecundang cecungut yang takut mempertahankan kebenaran.

Fret telah pergi meninggalkan kehidupan penuh sandiwara ini. Buat apa hidup di tengah ketidakadilan. Semua orang pencinta kebenaran dan keadilan pastilah merindukan Fret. Begitu juga tim kecilnya yang akan senantiasa mengingat Fret ketika mereka bersama di saat senang dan sedih. Fret telah damai termakan seloncong peluru atasannya. Sekarang giliran atasannya berhadapan dengan ketidakpastian hukum demi menebus kesalahan. Belum lagi permasalahan dari instansi lain yang tiga orang anggotanya dilepaskan oleh atasan Fret. Mereka mau balas dendam.

“Perang baru dimulai komandan” lirih pasukan kecil Fret dihati mereka masing-masing.

Sebuah cerpen: Bandung, Mei 2012

Duh Panca....

“Hore.. hari ini ulang tahunku” teriak Panca berlarian di depan rumah kayu beratap rumbia.

“Hati-hati jatuh,” teriak ibu Panca sembari terus membersihkan beras dari ulat beras hitam.

“Bu, hari ini ada makan apa? Aku kan lagi berulang tahun?”

“Kita makan seperti biasa Panca. Nasi ditemani ikan asin dan sayur kangkung.”

“Ohh.”

Panca pun meninggalkan ibunya yang baru saja selesai menghilangkan ulat beras. Begitulah pekerjaan ibunya sebelum menanak nasi, menghilangkan ulat.

Tepat 5 Juni 1945 Panca dilahirkan. Suasana mencekam dalam peperangan mewarnai isak tangis Panca. Desingan peluru, teriakan merdeka menjadi nada alam menyambut kehadirannya. Pada hari ke 152 dalam kalender Georgian atau hari ke 153 di kalender kabisat, Panca hadir ditengah keluarganya. Ia masih bersyukur sekarang masih memiliki ibu dan empat orang kakaknya. Ayahnya tak jelas ia ingat. Tewas di medan pertempuran bersama tentara Indonesia, begitu cerita yang ia dapatkan dari ibunya.

Sekarang panca telah berumur lima tahun. Bocah lelaki yang memiliki harapan besar di masa mendatang. Walaupun tinggal di rumah kayu beratap rumbia, Panca tetap sehat. Hatinya tenang. Sesekali tetasan air hujan malam membasahi wajahnya sehingga ia terbangun. Cahaya matahari siang mencoba bersembunyi masuk ke rumah panca melalui lobang-lobang rumbia.

“Panca, makan Nak,” teriak ibunya.

Kebetulan hari ini keempat kakak laki-lakinya sedang tak dirumah. Jika digabung, Panca bersaudara selaiknya Pandawa Lima dipenokohan wayang. Ada Yudistira, Bhimasena, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Sengaja tak berurutan. Panca ingin menjadi lelaki selaiknya Arjuna. Tegas dan memiliki pendirian.

“Iya Bu,” ujar Panca mendekati meja makan.

 Ada semangkok nasi. Warnanya putih kekuning-kuningan. Lima potong ikan asin bakar terletak di piring kecil. Di meja itu juga ada semangkok sayur kangkung. Kangkung yang dipetik Panca kemarin sore ketika berkunjung ke sawah pamannya di desa seberang. Desa Maipo, tepatnya bersebelahan dengan desa Panca, Rainawi. Tak jelas pasti oleh Panca desanya masuk administrasi mana. Yang jelas, lima tahun Panca hidup ia berada di negara yang merdeka, Indonesia.

Sembari makan, ibunya pun bercoleteh banyak hal. Tentang masa depan Panca dan negeri dimana Panca bertempat tinggal.

“Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, mungkin kau telah berperan besar di negeri ini Nak,” ujar ibunya sambil terus menyuapkan nasi ke mulut Panca. “Kau harus tau nak, ketika Kau dilahirkan, negara Indonesia belum merdeka. Masih dijajah Jepang.  Tepat 1 Juni 1945, Soekarno atau dikenal Bung Karno mencetuskan gagasannya berupa Pancasila. Panca artinya lima, jadi lima sila.”

Sambil mengunyah makanan, Panca terus mendengarkan ibunya. Pastinya ia tak mengerti apa yang ibu bicarakan. Walau tak mengerti Panca terus mendengarkan ibunya.

“Pancasila itu membicarakan banyak hal Nak. Ada ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial,” jelas ibunya.

Hanya keadilan yang dimengerti oleh Panca. Jelas teringat ketika ibunya berbagi jambu biji pada Panca dan tiga orang temannya. Masing-masing mendapatkan dua butir jambu biji. “Harus adil dalam berbagi,” terngiang ibunya menjelaskan padanya dulu.

Nasi dipiring akhirnya habis. Panca telah kenyang. Di meja makan masih tersisa nasi beserta lauk untuk keempat kakaknya. Kantung pun menyerang Panca. Lambat laun Panca pun tertidur dikursi kayu. Terlelap dan bermimpi.

Jalanan panjang telah dilalui. Banyak hal telah disaksikan. Suka duka tak terelaki. Menjadi bumbu indahnya kehidupan. Telah 67 tahun hidup, Panca merasakan dirinya tak berdaya lagi.Wajahnya keriput. Untuk jalan pun suli
Jelas terlihat di depan matanya kekerasan merajalela. Masyarakat miskin kian bertambah. Berbanding terbalik dengan berkurangnya sumber daya alam bangsa ini. Tak ada lagi ketenangan. Beberapa umat harus berhadapan maut di saat beribadah. Kesahjateraan semakin sulit dicari. Dibantaran rel kereta api atau dipinggir sungai yang telah tercemar. Rumah bertingkat, jalan raya serta gemerlap kota telah membuktikan bahwa negeri ini sudah tua. Entah sampai kapan bisa bertahan.
Korupsi merajalela. Hukum tak lagi ditegakkan. Tajam pada mereka tak berpunya. Tumpul pada mereka berkantung tebal. Semua orang berharap. Tapi harapan itu tak kunjung datang. Entah siapa yang bisa membereskan semua permasalahan bangsa ini.
Di ujung jalan, Panca merenung. Panas terik matahari kota megapolitan Jakarta tak hirau. Panca merasa dirinya tak berguna lagi. Ada panca atau lima hal yang ibunya pernah katakan. Ada ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial. Semuanya lambat laun telah tergerus. Panca merasa tak sanggup lagi menegakkan kelima hal tadi. Pastinya dibutuhkan Panca-panca baru berjiwa kesatria selaiknya Arjuna memerangi angkara murka Kurawa. Duh Panca, sungguh memperihatinkan keadaanmu.

            . Elusan tangan lembut ibu dikeningnya membuat Panca kecil pun tersentak bangun. Terbangun, lalu ia tercenung sejenak. Berusaha mengingat-ingat mimpi yang ia peroleh. Semakin dalam ia mengingat, semakin hilang ingatan itu. Panca tak sanggup menggapai. Ia hanya bergumam. Suatu saat ia kan menggapai itu semua.

Cerpen 1 Juni 1945-1 Juni 2012 : Selamat Lahir Pancasila.

Jadilah Dalang, Maka Kau Kan Bebas Berbuat

Bagi Anda penyuka dunia pertunjukan tentulah tidak asing dengan peran seorang dalang. Peran tersebut tentulah berkaitan dengan arahan jalan cerita dan pesan yang hendak disampaikan. Dalang tentunya juga penguasa panggung. Ia bebas untuk berekspresi dan berbuat. Dengan kekuasaannya, ia bisa membuat penonton merasa gembira, sedih, dan sesekali tersungging heran. 

Dalam dunia pertunjukan pun, kita sudah mahfum bahwa panggung lebih indah dibandingkan tempat bagi penonton. Panggung dihiasi berbagai ornamen berwarna-warni. Pencahayaan pun diatur sedemikian rupa untuk mendukung suasana. Suara alami dan buatan ikut menghebohkan dan memacu getaran jiwa. Lain hal untuk tempat para penonton. Cukup kursi dan posisi yang berdasarkan besaran bayaran. Ada juga penonton yang terpaksa duduk bersila di lantai. Namun,hal terpenting penonton bisa menyaksikan dan menyeletukkan komentar ketika pertunjukan usai.

Ingat! Tidak semua orang bisa menjadi dalang dalam sebuah pertunjukkan. Hanya orang-orang yang berminat dan berusaha yang bisa untuk menempati posisi itu. Memang, penonton adalah raja dalam memberikan penilaian. Sepedas apa pun kritikan penonton, tetap saja mereka belum tentu bisa menjadi dalang.

Sekarang, saya ingin mengajak Anda pada pertunjukan nyata. Ini bukan cerita tentang perwayangan dengan tokoh-tokoh fiksi. Tapi, pertunjukan yang kita lihat dan rasakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tarohlah, Indonesia adalah sebuah lokasi di mana pertunjukan akan diperlihatkan. Kelompok eksekutif, legislatif dan yudikatif adalah kumpulan dalang yang akan memberikan sajian pada penontonnya: rakyat Indonesia. Dengan segala usaha, mereka telah berhasil memosisikan diri untuk menjadi dalang dalam pertunjukan nyata ini. Ingat, tak semua orang bisa menjadi dalang. Terlebih dalang di dunia nyata dalam kehidupan bernegara ini.

Berbagai jenis pertunjukan telah disajikan oleh kelompok dalang tadi. Waktu terus berganti, kelompok dalang pun ikut berganti dan tentunya pertunjukan yang disajikan pun berbeda. Satu di antara kelompok dalang tadi adalah eksekutif/pemerintah. Kebetulan saat ini pemerintah -berasal dari partai beraliran nasionalis religius itu- lagi mengecewakan penonton. Sangat berbeda ketika periode pertama pemerintahannya. Dulu, berbagai pujian dan apresiasi berdatangan pada  pemerintah. Tapi tidak untuk saat ini. Pemerintah lagi kurang kreatif untuk menampilkan pertunjukan yang memuaskan rakyat penonton.

Di tengah panen kritikan akan ketidakpuasan penonton, pemerintah yang merupakan dalang tetap tenang. Karena ia tahu persis bahwa penonton tidak akan menyentuh panggung pertunjukkan. Pemerintah menganggap kritikan dan gugatan yang berakhir aksi hanyalah ungkapan kekecewaan rakyat penonton. Ya, karena penonton tak bisa membawa pulang senyum kepuasan. Oleh karenanya, pemerintah dan kelompok dalang lainnya sedang dan akan membuat pertunjukan lain lagi. Terlepas itu nantinya bisa membahagiakan atau mengecewakan rakyat penonton.

Ikutlah Menjadi Dalang
Menjadi dalang itu tentunya menyenangkan. Disediakan panggung yang apik. Bebas berekspresi dan berbuat. Pertunjukan usai, saatnya menunggu kritikan atau pujian dari penonton. Lalu, mencari ide dan kreativitas baru lagi untuk pertunjukan mendatang. 

Hal pas kiranya jika Anda hobi mengapresiasi kelompok dalang yang saya sebutkan di atas. Tidak hanya diapresiasi, Anda juga menyuarakan ide dan berunjuk rasa serta pemikiran untuk menjatuhkan kredibilitas kelompok dalang itu. Mungkin, alangkah baiknya jika Anda sudah berfikir untuk menjadi kelompok dalang sedari kini. Terserah, apakah kelompok dalang dari eksekutif, legislatif atau yudikatif. Hal ini mengingat berapa besar energi kelompok rakyat penonton dihabiskan untuk mengkritisi pertunjukan kelompok dalang yang tak memiliki kepedulian.

Tak ada salahnya kan Anda atau pun saya di waktu mendatang mencoba menjadi kelompok dalang. Udah bosan tentunya dengan teriakan-teriakan dibangku penonton yang tak berujung perubahan. Langkah biijak rasanya jika kita bergerak untuk menjadi dalang yang nantinya tidak akan mengecewakan penonton. Dalang yang baik hati, suka menolong dan menyajikan pertunjukan indah tanpa ada  pembohongan. Jika ada yang rasanya sudah sanggup, bersegeralah untuk menjadi dalang. Jika tak ada yang sanggup, ya nikmati saja menjadi kelompok penonton yang tak memiliki kebebasan dan kekuasaan untuk berkreasi dalam berbuat. Terlepas itu benar atau salah.

(Sejarah) Mie Spesial dari Kakek


Anda mungkin ingat dan terkesan dengan sebuah iklan produk mie spesial belakangan ini. Lucu dan kreatif. Ceritanya bermula dari seorang anak yang baru pulang sekolah. Sesampai di rumah, ia pun disodorkan mie ayam spesial oleh neneknya. Ia pun makan dengan lahap. Namun, ketika mie itu habis, ia kaget dan berhenti makan. Ternyata ia ingat akan ayam peliharaannya. “Nenek, ayamku? “. Ah, saya lupa adegan tepatnya. Saksikan sendiri ya.

Iklan tersebut masih terbayang-bayang ketika saya menuliskan tulisan ini. Sambil tersenyum saya pun teringat cerita mie spesial lain dari kakek. Mungkin Anda sudah ada yang tahu. Tapi bagi yang belum, saya akan ceritakan untuk Anda.

Kakek Ando

Di zaman dulu kala, di Jepang, konon di abad 19, seorang anak ditinggal orang tuanya. Ia pun hidup bersama neneknya. Pada saat itu ia masih berumur 3 tahun. Dalam pertumbuhannya, ia ikut membantu neneknya mengurusi urusan rumah seperti mencuci dan memasak. Dengan aktivitas tersebut, ia pun menjadi pandai memasak.

Dengan kemampuannya itu, ia pun berangan-angan jika sudah besar akan menjadi pedagang ulung. Syukurnya, cita-citanya tercapai. Ketika ia sudah beranjak dewasa, Jepang mengalami krisis pangan. Bantuan Amerika Serikat berupa gandum banyak sekali datang. Harga terigu melorot. Namun, ia melihat masyarakat Jepang sangat suka makan mie. Ia pun berfikir dan memutar otak bahwa hal ini bisa menjadi ladang bisnis yang luar biasa. Kebetulan pada saat itu, mie tidak bisa bertahan lama dan harus dikonsumsi segera.

Ia pun mulai bereksperimen. Di belakang rumahnya, ia pun mulai meracik gandum menjadi mie dengan berbagai rasa. Tentunya harus bisa bertahan lama. Mulai dari kegurihan mie, kekhasan bumbunya dan daya kemas ia pikirkan.

Di tahun 1958 ia sukses besar. Eksperimennya sukses besar. Ia pun mendirikan pabrik mie dan diberi nama Nissin Foods. Beberapa tahun kemudian, ia menambah pabrik mie menjadi dua, tiga, dan seterusnya. Namun, ia pun belum puas. Lalu ia berkeliling Eropa dan Amerika untuk melihat produk mie di sana. Setelah pulang ia pun memperbaiki kualitas produknya menjadi lebih baik.

Pulang dari studi bandingnya, ia pun semakin sukses besar. Pabriknya pun disulap menjadi industri. Genap di umur 77 tahun, di tahun 1988 ia pun mendirikan gedung dan diberi nama Istana Mie. Isinya lengkap, ada restoran mie, bar, tempat hiburan dan museum mie. Mau tau namanya ? Dia adalah Mamofuku Ando. Ya, kakek Ando kalau saya menyebutnya.

Lalu, bagaimana dengan nenek dan anak laki-laki tadi. Itu cerita lain lagi. Mungkin di suatu saat di masa depan, bocah itu akan menjadi Ando-Ando muda yang membuat mie semakin spesial. Tentunya tanpa melupakan ayam-ayam peliharannya.

Salam mie !

Dikutip dari berbagai sumber (blog dan vivaforum)