Harapan Baru Dalam Keputusasaan


Tahun lalu, 2011, menyisakan banyak kenangan buruk akan kinerja wakil rakyat dan pemerintah. Berbagai permasalahan masih jauh dari yang diharapkan. Kekerasan merajalela, ketidakadilan semakin meluas, hingga permasalahan korupsi yang selalu dipolitisasi. Semua itu telah terukir di pikiran dan hati bangsa Indonesia. Tidak hanya itu, rakyat pun dibuat putus asa.

Para pemangku pemerintahan dan wakil rakyat terlihat tuli dan buta. Berbagai aksi demonstrasi untuk mengingatkan dan menyuarakan aspirasi rakyat hanyalah pengisi informasi media massa. Suara kegeraman rakyat tak lagi menakutkan, malahan menjadi hiburan ketika rakyat harus berhadapan dengan para aparat keamanaan. Hebatnya lagi, pembakaran diri seorang aktivis mahasiswa tak jua melunakkan hati para penguasa.

Baru-baru ini, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) “bercanda” lagi. Setelah sempat gagal dalam rencana pembangunan gedung baru, DPR pun berencana merenovasi toilet. Angkanya cukup fantastis untuk ukuran toilet, 2 miliar rupiah. Berdasarkan pantauan media massa, toilet di DPR masih cukup bagus dan laik pakai. Hanya permasalahannya terletak pada kurangnya kebersihan.

Melihat kondisi bangsa yang semakin mengkhawatirkan ini, sudah selaiknya DPR untuk tidak meminta yang aneh-aneh. Paham hedonis yang selama ini diperlihatkan oleh wakil rakyat seharusnya perlahan-lahan ditinggalkan. Begitu banyak permasalahan negeri ini yang belum selesai. Kasus pembantaian di Mesuji, Lampung, kekerasan aparat di Bima, hingga perusakan lingkungan alam hayati. Selain itu, kesahjateraan rakyat dan keadilan perlu menjadi perhatian serius DPR dibandingkan menyibukkan diri memperbaiki tempat pembuang kotoran, kecuali jika DPR mau menjadikannya sebagai tempat tidur mereka.

Untuk permasalahan keadilan misalnya, masih banyak rakyat yang ditindas oleh penegak hukum. Anak berusia 15 tahun harus divonis 5 tahun hukuman penjara karena mencuri sendal anggota kepolisian.Sangat berbeda sekali dengan hukuman untuk para koruptor. Jangankan dihukum, diperiksa saja belum, tentunya dengan berbagai alasan. Beberapa kasus korupsi belum menemukan titik temu, malahan semakin dipelintir untuk membebaskan para koruptor dari jeratan hukum. Misalnya, kasus Bank Century, kasus korupsi cek pelawat pemilihan Miranda Goeltom di Bank Indonesia dan kasus Nazaruddin.

Harapan Baru

Semestinya kita bersyukur karena masih ada beberapa pejabat dan wakil rakyat yang masih memiliki hati nurani. Baru-baru ini, Walikota Solo Joko Widodo dan Menteri BUMN Dahlan Ishkan menjadi sorotan rakyat. Menjadi sorotan bukan karena mereka korupsi atau meminta hal aneh seperti DPR. Mereka hanya menunjukkan hati nurani dalam mengemban amanah rakyat.

Untuk Jokowi, rakyat Solo sangat mengapresiasi kinerja masa pemerintahannya yang selalu mengedepankan kepentingan rakyat. Memang atasannya mencapnya sebagai walikota bodoh dan sembrono, tapi tidak dari rakyat. Rakyat sangat memuji usahanya menertibkan kota Solo yang tak melukai hati masyarakatnya. Hebatnya lagi, ia adalah orang pertama yang mempercayai produk mobil nasional Esemka dan digunakan sebagai kendaraan dinasnya.

Lain hal dengan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Ia pun menunjukkan kesehajaannya ditengah hedonisme para pejabat dan wakil rakyat. Jiwa wartawannya yang dekat dengan rakyat semakin terlihat jelas ketika ia menggunakan angkutan kereta api menuju Istana Cikeas untuk rapat bersama Presiden SBY.Kesahajaannya itulah yang membuatnya dicalonkan sebagai ketua umum PSSI dan dicanangkan sebagai wakil presiden di pemilihan 2014 mendatang.

Jokowi dan Menteri Dahlan bisa dikatakan harapan baru untuk masa depan bangsa dan negeri ini. Oleh karenanya, patutlah dukungan tertuju pada pemimpin seperti mereka. Moga-moga dengan besarnya dukungan dari rakyat dapat menyadarkan para penguasa dan wakil rakyat yang selama ini mementingkan diri dan golongan sendiri. Jika mereka tidak berubah, tak jadi masalah. Toh, kita masih mempunyai pemimpin-pemimpin amanah. Semoga harapan baru ini benar-benar bisa terwujud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar