Amba, Salwa dan Surat



Lasmi Pamuntjak telah sukses menyihir pembaca dengan novel terbarunya: AMBA. Bahasa Lasmi yang lugas dengan deskripisi detail dan mengikat, mampu membawa pembaca ke suasana penuh kecaman di bilangan tahun 1965, di tengah ketegangan dan kekerasan politik setelah Peristiwa G30S di Yogya dan Kediri.

Amba, sosok tokoh utama. Perempuan desa, pemalu di awal dan berfikiran kritis. Anak seorang guru di Kadipura, Jawa Tengah ini menyambung pendidikannya di Fakultas Sastra UGM, Yogya. Sejak ia menginjak dewasa, ibunya hanya ingin Amba segera menikah. Mengikuti tradisi perempuan kampung yang cepat menika. Dengan pola fikir feminis, Amba menolak. Memilih hidup jauh dari keluarga, menimba ilmu dan menerjang tantangan kehidupan.

Ada Salwa Munir. Sosok pemuda santun, seorang instruktur dosen di universitas yang sama dengan Amba. Jatuh cinta pada Amba pada pandangan pertama. Cintanya sempat berbalas, sempat bertunangan, namun kalah dengan praktik cinta dalam kehidupan. Sosok Bhisma Rashad, dokter muda lulusan Universitas Leipzig lebih mampu menunjukkan arti cinta sesungguhnya. Tidak hanya kata romantis, surat, janji masa depan, tapi ia berikan sentuhan cinta pada tubuh Amba yang bergetar dan pasrah ketika mereka bersama.

Hipotiroid: Pembunuh Otak Berdarah Dingin


Penyakit hipotiroid atau hipertiroid pada ibu hamil di Indonesia masih belum menjadi kesadaran masyarakat luas. Padahal penyakit ini tak bisa dianggap enteng, terlebih pada anak yang baru lahir dari ibu penderita hipotiroid. Anak yang terlahir hipotiroid akan mengalami cacat mental, berfikir lambat dan akibat terparah anak terlahir idiot.

Kekurangan tiroid sejak dalam kandungan disebut hipotiroid kongenital. Hormon tiroid ini berperan untuk pertumbuhan otak, pertumbuhan fisik dan perkembangan metabolisme tubuh.

“Pada otak, hormon tiroid berguna untuk membentuk sel-sel nouron otak, membangun jaringan dan membentuk diferensiasi fungsi otak, seperti berbicara, mengingat, sensitifitas dan sebagainya,” ujar Spesialis Anak Konsultan Endokrinologi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) dr.Diet Rustama, SpA(K).

Pada kehidupan manusia, pertumbuhan fisik memiliki dua periode, yaitu periode bayi dan remaja. Sedangkan masa pertumbuhan otak hanya terjadi sekali, yaitu pada umur 1-3 tahun. “Itu yang memperihatinkan, karena masa kritis pertumbuhan otak pada rentang itu saja. Lewat dari rentang itu, otak tidak berkembang lagi. Jika terjadi gangguan pada otak, akan fatal akibatnya bagi anak,” tambah dr.Diet yang juga Ketua Sub Pokja-Pokjanas Screening Bayi Baru Lahir Kemenkes RI di RSIA Hermina Pasteur Jl. DR.Djundjunan No.107, Bandung pada Jumat (2/11).